Bom bunuh diri kembali guncang Rusia

Salah satu TKP ledakan di Dagestan
Image caption Aparat Rusia masih menyelidiki ledakan di Dagestan

Sedikitnya 12 orang tewas termasuk seorang petinggi polisi setelah dua buah bom meledak di kawasan sengketa Rusia, Republik Dagestan di Kaukasus Utara.

Bom mobil pertama meledak sekitar pukul 4.30 GMT sekitar pukul 11.30 WIB di luar kantor Kementerian Dalam Negeri Dagestan dan kantor Dinas Keamanan FSB di kota Kizlyar yang berbatasan dengan Chechnya.

Bom kedua meledak sekitar 35 menit setelah ledakan pertama di lokasi yang sama. Ledakan kedua ini menewaskan Kolonel Vitaly Vedernikov seorang petinggi kepolisian setempat.

Kolonel Vitaly saat itu tengah berada di dekat lokasi ledakan bom bersama sejumlah warga ketika pelaku bom bunuh diri mendatangi kerumunan dan meledakkan diri.

Ledakan bom ini terjadi di tengah kewaspadaan aparat keamanan Rusia setelah dua bom bunuh diri meledakkan kereta bawah tanah Moskow, Senin lalu yang menewaskan 39 orang.

Aparat keamanan Rusia yakin bom bunuh diri Moskow terkait dengan kelompok militan yang beroperasi di Kaukasus Utara.

Bulan lalu, pemimpin pemberontak Chechnya Doku Umarov mengancam bahwa zona operasi militer Rusia akan diperluas hingga ke dalam wilayah Rusia. Dia menegaskan perang akan menghampiri kota-kota Rusia.

Kekerasan di Dagestan meningkat setelah operasi militer menekan gerakan militan di Chechnya. Bulan Juni lalu Menteri Dalam Negeri Dagestan tewas tertembak.

Bantahan militan

Dalam pertemuan pejabat pemerintah menyusul serangan di Dagestan hari Rabu, PM Vladimir Putin mengutuk "aksi teroris" tersebut dan menyatakan bahwa dia tidak mengesampingkan bahwa aksi itu melibat satu kelompok yang sama.

Sementara itu, Presiden Dmitry Medvedev mengatakan kedua insiden serangan "rangkaian mata rantai yang sama".

Kelompok militan muslim yang dipimpin oleh seorang pemberontak Chechnya hari Rabu membantah bertanggung jawab atas ledakan-ledakan etrsebut.

"Kami tidak melakukan serangan di Moskow, dan kami tidak tahu siapa yang melakukannya," kata Shemsettin Batukaev, jurubicara kelompok Emirat Kaukasusyang dipimpin oleh Doku Umarov dalam wawancara telepon dengan kantor Reuters di Turki.

Jurubicara tersebut menambahkan kelompok tersebut telah merencanakan serangan terhadap sasaran-sasaran ekonomi di Rusia, bukannya sasaran sipil.

Berita terkait