Kekerasan bayangi pemilu Filipina

Image caption Aksi kekerasan mewarnai pemilu Filipina yang dimulai hari ini

Enam orang tewas di hari pertama pemilih umum Filipina, terutama di kawasan konflik di selatan negeri itu. Angka ini menambah panjang deretan warga negeri itu yang tewas selama tiga bulan masa kampanye.

Juru bicara militer Letnan Kolonel Raymundo Ferrer mengatakan tiga orang tewas ditembak dan 10 lainnya cedera saat terjadi bentrokan antara polisi dan pendukung seorang calon walikota di Provinsi Zamboanga Sibugay, di kawasan selatan negeri itu.

Sedangkan dua orang lainnya, lanjut Ferrer, tewas saat dua kelompok pasukan pribadi para kandidat walikota Kabuntalan Utara, Provinsi Maguindanao Selatan terlibat bentrokan.

Sementara itu dalam sebuah insiden terpisah, seorang kemenakan Wakil Gubernur Provinsi Cotabato Utara tewas tertembak ketika tengah mengendarai sepeda motor.

Para korban tewas ini membuat jumlah korban tewas selama tiga bulan masa kampanye menjadi 33 orang. Jumlah ini tidak termasuk tewasnya 57 orang di Provinsi Maguindanao, November tahun lalu saat menjelang pemilihan gubernur provinsi itu.

Klan Ampatuan yang berkuasa membantai calon kandidat gubernur beserta pendukungnya saat akan mendaftarkan diri ke bursa calon gubernur.

Sejauh ini pengadilan sudah mendakwa 12 orang anggota klan Ampatuan terlibat dalam pembantaian itu namun 10 orang di antara mereka diketahui mencalonkan diri dalam pemilu kali ini karena sejauh ini pengadilan belum menyatakan mereka bersalah.

Wartawan BBC di Filipina Kate McGeown mengatakan antusiasme masyarakat mengikuti pemilu terlihat sangat tinggi. Di salah satu TPS di SD Nemesio Yabut di Manila, antrean panjang warga mengular menunggu giliran memberikan suara.

Bahkan, kata McGeown, beberapa orang sudah menunggu berjam-jam dalam cuaca yang panas terik namun kondisi itu tampaknya tidak melunturkan semangat mereka.

Kerusakan mesin

Rakyat Filipina masih menganggap pemilu sebagai hal yang sangat serius. Hal itu terlihat dari antusiasme masyarakat di berbagai TPS. Diperkirakan 85% warga yang memiliki hak memilih akan memberikan suara mereka.

Presiden Gloria Arroyo mencalonkan diri sebagai anggota parlemen

Rakyat Filipina akan memilih presiden dan wakil presiden baru negeri itu, dan sekitar 17.000 posisi politik lainnya.

Dua kandidat presiden yang diperkirakan bakal bersaing ketat adalah Benigno Aquino, putra mantan presiden Cory Aquino dan mantan presiden yang juga bintang film Joseph Estrada.

Sementara itu, Presiden Gloria Macapagal Arroyo yang habis masa jabatannya juga ikut mencalonkan diri sebagai anggota parlemen.

Dalam pemilu kali ini Filipina menggunakan sistem pemungutan suara otomatis namun kesalahan-kesalahan masih terjadi di berbagai lokasi.

Bahkan salah satu kandidat Benigno Aquino tidak berfungsi saat akan memberikan suaranya di kampung halamannya Provinsi Tarlac karena kerusakan mesin penghitung suara.

"Saya rasa kondisi ini tak hanya terjadi di sini. Kami masih menunggu laporan lainnya...(namun) jika masyarakat tidak dapat memilih karena mesin tak menerima kartu suara mereka maka ini merupakan masalah," kata Aquino.

Selama masa kampanye, masalah penggunaan mesin penghitung suara otomatis untuk pertama kalinya ini juga medominasi isu-isu kampanye. Kala itu, sejumlah pihak sudah mengkhawatirkan masalah yang akan timbul karena penggunaan mesin-mesin ini.

Berita terkait