Korban konflik Kirgistan bertambah

Pasukan Kirgistan
Image caption Pasukan Kirgistan berpatroli di jalan-jalan kota Osh

Pasukan keamanan berupaya menghentikan konflik etnik di kota Osh di Kirgistan selatan, yang sejauh ini diketahui menyebabkan 49 orang tewas.

Aksi kekerasan memasuki hari kedua dan ribuan orang mengungsi ke perbatasan dengan Uzbekistan untuk menyelamatkan diri dari pertempuran antara masyarakat etnik Kirgis dan Uzbek.

Rumah-rumah pasar utama di komunitas etnik Uzbek terbakar dan suara tembakan masih terdengar, demikian menurut sejumlah laporan.

Pemerintah sementara Kirgistan sudah menyatakan keadaan darurat dan menerapkan larangan keluar rumah.

Departemen Kesehatan Kirgistan mengatakan lebih dari 650 orang luka-luka.

Konflik ini merupakan kekerasan terburuk di negara Asia Tengah itu sejak Presiden Kurmanbek Bakiyev digulingkan April lalu.

"Banyak jalan-jalan yang terbakar," kata juru bicara Departemen Dalam Negeri Rakhmatillo Akhmedov.

Datang dari daerah lain

"Situasinya sangat buruk. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Rumah-rumah dibakar," tukasnya.

Sebagian besar properti yang diserang adalah milik warga etnik Uzbek, seperti dilaporkan berbagai media massa.

Kantor berita Associated Press (AP) melansir, tembakan senapan mesin terdengar di tengah upaya pasukan pemerintah untuk mengambil alih jalan-jalan.

Sekelompok laki-laki etnik Kirgis, membawa tongkat besi dan senjata otomatis, datang dari tempat-tempat lain ke Osh, menurut polisi dan warga setempat seperti dikutip AP.

Wartawan BBC Rayhan Demytrie, yang berada di perbatasan antara Kirgistan dan Uzbekistan mengatakan bahwa ribuan orang, terutama wanita, anak-anak dan orang tua, mencoba menyeberang masuk ke Uzbekistan atau menunggu pertolongan.

Wartawan kami melaporkan, sebagian dari mereka menceritakan rumah mereka dibakar tadi malam dan bahwa mereka juga ditembaki dari kendaraan lapis baja yang berpatroli di jalan-jalan Osh.

Seorang juru bicara pemerintah sementara mengatakan kepada BBC situasi "sangat, sangat sulit".

Namun dia menyangkal bahwa aparat keamanan menembaki warga dan mengatakan pasukan pemerintah mencoba mencegah warga lain masuk ke Osh untuk ikut terlibat konflik.

Berita terkait