HRW minta sunat perempuan dilarang di Kurdistan

Kurdistan Irak
Image caption Sunat perempuan melaporkan terjadi meluas di kawasan Kurdistan.

Human Rights Watch, HRW, meminta agar pihak berwenang di kawasan otonomi Kurdistan, Irak, melarang praktek sunat perempuan.

Laporan yang diumumkan HRW Rabu (16/06) menyebutkan praktek itu meluas di Kurdistan dan menimbulkan dampak buruk secara fisik dan emosional bagi sejumlah perempuan.

Organisasi itu meminta agar pemerintah wilayah Kurdistan memberlakukan undang-undang yang melarang sunat pada perempuan muda maupun pada perempuan dewasa yang tidak setuju.

"Sudah saatnya bagi pemerintah wilayah Kurdistan untuk mengambil tindakan nyata dalam menghapuskan praktek yang menyakitkan ini karena tidak akan mengilang dengan sendirinya," kata Nadya Khalife, salah seorang peneliti dan penulis laporan HRW tentang sunat perempuan di Kurdistan.

Tidak ada statistik yang pasti namun beberapa survei menunjukkan sunat perempuan berlangsung secara meluas di wilayah ini.

Salah satu survei yang dilakukan Kementrian Hak Asasi Kurdistan menyebutkan 40% anak dan remaja perempuan di Chamchamal -antara kota Kirkuk dan Sulaimaniya- sudah disunat.

Sebuah studi sebelumnya oleh LSM Wadi -yang merupakan kerjasama Jerman dan Irak- memperlihatkan bahwa di sekitar Irbil, Sulaimaniya dan Kirkuk, persentase perempuan yang disunat lebih tinggi lagi: sekitar 70%.

Tidak diberi tahu

Penyunatan biasanya dilakukan oleh orang yang tidak punya kualifikasi dengan peralatan yang diragukan kebersihannya.

Perempuan yang disunat dibawa ke tempat penyunatan oleh anggota keluarganya sendiri dan sering sekali mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Hal itulah yang membuat HRW menggunakan judul "They Took Me and Told Me Nothing" yang artinya "Mereka Membawa Saya dan Tidak Mengatakan Apa-apa pada Saya."

Menurut HRW sunat perempuan tidak punya alasan secara medis namun dengan dampak fisik dan emosional yang serius.

Pada tahun 2007, Kementrian Kehakiman Kurdistan sudah mengeluarkan selebaran yang menyatakan orang-orang yang melakukan penyunatan atas perempuan akan ditangkap dan dihukum, namun HRW menegaskan tidak ada bukti kalau larangan itu memang diterapkan.

Sunat perempuan bukan hal yang biasa di Irak dan tidak jelas kenapa menjadi tradisi di daerah kesukuan Kurdistan.

Laporan-laporan menyebutkan sejumlah ulama di Kursdistan menganggap sunat di kalangan perempuan bisa mengurangi nafsu seksual perempuan.

Berita terkait