Pembalakan liar di Indonesia turun 75%

Image caption Produksi kayu ilegal dunia juga dilaporkan turun 22%

Penebangan kayu secara liar di hutan-hutan Indonesia dilaporkan turun 75% dalam 10 tahun terakhir.

Hasil penelitian yang dikeluarkan oleh lembaga pengkajian yang berpusat di London, Chatham House, itu mengatakan penurunan tajam iini terutama disebabkan oleh pembuatan peraturan dan undang-undang penebangan hutan yang lebih tegas dalam penerapannya.

Sampai beberapa tahun yang lalu lebih dari separuh kayu yang diproduksi di Indonesia didapat secara ilegal.

Penebangan hutan secara liar mengancam kelangsungan hidup satwa liar di hutan dan merugikan masyarakat yang hidup di hutan maupun hidup dari hutan.

Situasi sekarang tampaknya telah berubah. Namun ketua tim peneliti Chatham House yang menulis laporan itu, Sam Lawson, mengatakan ini bukan berarti perjuangan melawan pembalakan liar sudah selesai.

"Saya tahu [penurunan 75%] terdengar besar, tetapi harus diingat bahwa penebangan kayu liar sebelumnya merupakan masalah yang sangat besar di negara-negara itu. Jadi walaupun jumlahnya sudah berkurang secara signifikan, ini masih merupakan masalah besar. Di Indonesia misalnya, 40% produk kayu masih dihasilkan dari pembalakan liar," kata Lawson.

Bukan masalah terbesar

Penurunan tajam ini dibenarkan oleh juru kampanye hutan Greenpeace untuk Asia Tenggara, Joko Arief. Dia menjelaskan, penurunan ini terutama didorong upaya pemerintah untuk memerangi penebangan liar.

Penebangan liar hutan Indonesia turun Joko Arief dari Greenpeace menjelaskan penurunan 75% pembalakan liar dalam 10 tahun terakhir kepada Emilda Rosen. indonesia hutan illegal logging penebangan liar penebangan lingkungan greenpeace

"Sejak tahun 2005 sebenarnya, ketika Presiden SBY membentuk satgas untuk menerapkan peraturan perundang-undangan dalam hal illegal logging," kata Joko. "Satu hal yang pasti adalah karena penegakkan hukum."

Akan tetapi Joko mengatakan, penebangan kayu secara liar bukan merupakan satu-satunya masalah yang dihadapi dalam memerangi penebangan hutan secara ilegal.

Greenpeace, menurutnya, mencatat penyebab utama deforestasi di Indonesia dan pembalakan liar adalah penyebab terbesar keempat.

Kontribusi deforestasi yang lebih besar datang dari industri kertas, ekspansi industri kelapa sawit dan sektor pertambangan yang kesemuanya dilakukan seizin pemerintah.

Joko Arief menambahkan, menurut data departemen kehutanan, saat ini total kecepatan deforestasi sekitar 1,1 juta hektar per tahun pada tahun 2010 hingga bulan Maret.

"Itu memang menurun dibandingkan sebelumnya. Namun (deforestasi) ini sebagian besar disebabkan oleh izin-izin yang dikeluarkan pemerintah bagi industri kertas dan kelapa sawit," kata Joko.

Penurunan global

Laporan Chatham House juga mengatakan bahwa di seluruh dunia, produksi kayu secara ilegal juga menurun sebesar 22% sejak tahun 2002.

Selain Indonesia dua negara lain dengan hutan tropis terbesar di dunia yaitu Brazil dan Kamerun juga mengalami penurunan pembalakan liar lebih dari 50%.

Disamping karena peraturan penebangan hutan yang lebih ketat di negara-negara produsen kayu, peraturan yang melarang pembelian produk kayu ilegal di negara-negara konsumen seperti Uni Eropa dan Amerikajuga menjadi faktor pendorong penurunan pembalakan liar.

Berita terkait