Chavez tinjau hubungan dengan Paus

Presiden Venezuela Hugo Chavez
Image caption Chavez sebelumnya sudah pernar bertikai dengan Vatikan

Hugo Chavez memerintahkan peninjauan hubungan Venezuela dengan Vatikan karena ketegangan masalah uskup.

Minggu ini Konperensi Episkopal Venezuala memperingatkan tentang peningkatan pengkutuban politik menjelang pemilihan legislatif penting bulan September.

Chavez menggambarkan para pemimpin Katolik setempat sebagai "kelompok yang hidup mengasingkin diri".

Dalam pidato televisi hari Rabu, Presiden Chavez meminta menteri luar negeri untuk mengkaji kesepakatan yang sudah berumur 10 tahun dengan Vatikan.

Kesepakatan tersebut memberikan kemudahan kepada Gereja Katolik Roma yang tidak dinikmati gereja lain, katanya.

Venezuela adalah negara sekuler, sehingga pemberian kemudahan kepada kelompok keagamaan tertentu merupakan pelanggaran undang-undang dasar, kata Presiden Chavez.

Dia juga mempertanyakan kewenangan Paus dengan mengatakan dia adalah kepala negara Vatikan tetapi bukan utusan Yesus Kristus di Bumi.

"Kristus tidak memerlukan duta besar. Kristus ada di dalam manusia dan kami yang memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan kelas bawah," katanya.

Marxist

Dalam beberapa tahun terakhir Presiden Chavez dan para pemimpin gereja berbeda pandangan, tetapi beberapa minggu terakhir ini perbedaan semakin tampak.

Pemimpin Gereja Katolik Venezuela, Kardinal Jorge Urosa secara terbuka mengecam pemerintahan Chavez. Kejadian yang terbaru adalah kritik terhadap cara pemerintah menangani skandal korupsi dan makanan beracun.

Tanggal 12 Juli, konperensi uskup Venezuela mengatakan kekhawatiran bahwa "polarisasi idiologi dan politik" menciptakan suasana kebencian menjelang pemilihan legislatif tanggal 26 September.

Chavez menuduh pemimpin gereja yang dia pandang sebagai "kelompok yang hidup mengasingkan diri" dan "manusia gua", karena mendukung kelompok oposisi.

Dia mengatakan mereka seharusnya tidak terlibat dalam dunia politik dan berhenti berusaha menakuti-nakuti penduduk dengan menyatakan dirinya sebagai Marxist.

"Saya Marxist, tetapi dalam ke-Marxist-an saya, saya adalah penganut Kristen yang taat," kata Chavez.

Venezuela memiliki banyak warga Katolik Roma.