TKI boleh ke Malaysia tahun ini

Pekerja Indonesia di Malaysia
Image caption Sebagian Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia bekerja di sektor konstruksi

Pemerintah Indonesia optimis akan bisa mencapai kesepakatan dengan Malaysia tahun ini dalam perbaikan kondisi tenaga kerja Indonesia di negara itu sehingga pengiriman TKI ke Malaysia bisa kembali dimulai.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, mengatakan saat ini hanya tinggal satu poin lagi yang belum disepakati yaitu berapa sebenarnya biaya pemberangkatan TKI ke Malaysia.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

"Berapa sebenarnya biaya pengiriman para TKI atau cost structure yang disepakati kedua negara yang akan mengontrol harga pasar sehingga tidak membebani para pemakai TKI dan TKI sendiri," ungkap Muhaimin.

Pemerintah Indonesia, lanjut Muhaimin, sudah meminta agar biasa rekrutmen dihapus sehingga tidak membebani para pekerja Indonesia yang selama ini harus membayar biaya itu dari gaji mereka ketika tiba di Malaysia.

Misalnya biaya tiket dari daerah hingga sampai tempat tujuan di Malaysia kan memang merupakan biaya yang tidak bisa tidak, harus dikeluarkan.

Tapi biaya rekrutmen harus dihapus karena selama ini membebani para TKI karena gaji mereka dipotong untuk membayar biaya rekrutmen tersebut.

Komitmen Malaysia

Muhaimin mengatakan pihak Indonesia mendorong agar biaya pemberangkatan TKI ini hanya mencakup pengeluaran yang memang tidak bisa dihindari seperti ongkos tiket dari tempat asal para TKI, tiket dari tempat embarkasi ke tempat tujuan, asuransi, dan beberapa hal yang memang sama sekali tak bisa dihindarkan.

Menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi menjelaskan hal ini ketika BBC meminta tanggapan pemerintah Indonesia atas vonis hukuman mati yang dijatuhkan pengadilan Malaysia, Senin (19/07), kepada seorang majikan yang terbukti membunuh pembantunya asal Indonesia Oktober tahun lalu.

Dan dia juga menilai komitmen Malaysia semakin kuat dalam melindungi tenaga kerja Indonesia, menyusul hukuman mati yang dijatuhkan pengadilan Malaysia kemarin kepada seorang pedagang Malaysia yang terbukti membunuh pembantunya asal Indonesia.

"Tentu kita tidak dalam posisi mencampuri urusan hukum negara lain, terutama kualitas hukumannya. Tetapi kita menangkap sinyal positif bahwa komitmen Malaysia semakin bagus, dan ini terbukti dengan memberikan hukuman itu. Semoga ini akan menimbulkan efek jera bagi para majikan agar trauma melakukan tindakan-tindakan seperti ini," kata Muhaimin Iskandar.

Pria Malaysia tersebut, A. Murugan, 36 tahun -menurut hakim pengadilan- tidak diragukan lagi memang terbukti membunuh Muntik Bani.

Kematian pembantu wanita ini juga menjadi salah satu pemicu keputusan pemerintah Indonesia memberlakukan larangan pengiriman tenaga kerja ke Malaysia yang masih berlaku hingga saat ini.

Sinyal positif

Muhaimin mengatakan sinyal positif dari pihak Malaysia ini tentu membuat pemerintah semakin bersemangat dalam melanjutkan kerjasama khususnya mencabut larangan atau moratorium yang masih berlaku sampai sekarang.

Namun dia menegaskan moratorium hanya bisa dicabut hanya jika MOU sudah ditandatangani kedua negara.

Sementara itu organisasi para pekerja migran di Indonesia dan Malaysia menyambut baik hukuman mati yang dijatuhkan pengadilan Malaysia.

Asosiasi para pembantu migran Malaysia mendesak agar Indonesia mencabut larangan pengiriman PRT ke Malaysia dengan mengatakan hukuman mati itu menunjukkan bahwa pihak berwenang Malaysia tidak mentolerir perlakuan semena-mena.

Malaysia adalah salah satu negara di Asia yang sangat tergantung pada pekerja asing untuk sektor pekerja domestik, tetapi sampai saat ini belum ada aturan yang baku yang mengatur kondisi kerja para pembantu rumah tangga.

Berita terkait