Korut tahan kapal nelayan Korsel

Image caption Cheonan dipercaya ditenggelamnkan oleh Korea Utara

Korea Utara mengumumkan telah menawan sebuah kapal nelayan Korea Selatan yang dianggap telah melanggar masuk ke kawan zona ekonomi eksklusif Korut.

Kantor berita Korut KCNA melaporkan kapal itu ditangkap setelah diberitakan menghilang pada tanggal 8 Agustus di lepas pantai timur.

"Sebuah kapal nelayan Korea Selatan yang tengah melaut di zona ekonomi eksklusif kami di bagian tenggara Laut Jepang telah ditangkap oleh Militer Korea Utara KPA pada tanggal 8 Agustus'' demikian isi berita yang disampaikan kantor berita KCNA dari ibukota Pyongyang.

Pernyataan itu juga menyatakan kalau akan menyelidiki insiden ini "hasil investigasi awal menyebutkan kalau kapal itu berisi empat orang Korea Selatan dan tiga orang Cina, masuk ke zona ekonomi kami, investigasi akan berlanjut''.

Korea Selatan langsung meminta agar kapal beserta awak kapal itu segera dilepaskan sesuai dengan hukum internasional dan imigrasi serta semangat kemanusiaan.

Menahan kapal nelayan adalah sesuatu yang tidak biasa tetapi ini berlangsung disaat ketegangan tengah meningkat di semenanjung Korea.

Kemarahan

Korea Utara telah mengungkapkan kemarahan atas serangkaian latihan militer yang dilakukan bersama Amerika Serikat dan Korea Selatan di kawasan Laut Timur.

Negara-negara barat juga tengah berdebat mengenai bagaimana memberi sanksi bagi Korut bersamaan dengan upaya untuk kembali ke meja perundingan terkait masalah nuklir.

Rabu kemarin, AS mengumumkan akan menggelar latihan perang anti serangan kapal selam dengan Korea Selatan di awal bulan depan.

Sebelumnya AS dan Korsel telah memulai 11 hari latihan simulasi komputer.

Latihan pertama dilakukan setelah kapal perang Cheonan ditenggelamkan bulan lalu di Laut Timur.

China, sekutu terdekat Korea Utara juga memprotes latihan gabungan ini.

Latihan ini dipercaya sebagai tanggapan atas serangan torpedo ke kapalperang Korea Selatan pada tanggal 26 Maret yang diyakini dilakukan oleh Korut.

Insiden itu menewaskan 46 orang Korsel dan menimbulkan perang kata-kata di media atas siapa yang paling bertanggung jawab.

Berita terkait