Delapan turis HK tewas di Manila

Sandera yang cedera
Image caption Pemerintah Hong Kong kecewa dengan cara polisi mengakhiri pembajakan bus

Polisi Filipina menyerbu sebuah bis yang dibajak dan menembak mati seorang mantan polisi yang menyandera sekelompok turis Hong Kong.

Delapan sandera tewas dalam penyerbuan berdarah, beberapa orang sandera yang selamat merangkak keluar dari bis sementara petugas dinas kesehatan memindahkan jenazah.

Seorang mantan polisi yang bersenjatakan laras panjang menyandera bis itu dalam upayanya mendapatkan kembali pekerjaanya setelah dia dipecat.

Pemerintah Hong Kong mengecam operasi pembebasan sandera itu.

Secara total, 22 turis Hong Kong disandera bersama-sama tiga warga Filipina - seorang pengemudi, seorang pemandu wisata dan seorang jurufoto.

Para pejabat Cina mengatakan kedelapan korban yang tewas adalah warga negara Hong Kong.

Korban yang selamat

Salah seorang korban yang selamat, yang menyebut dirinya sebagai Leung mengatakan kepada wartawan bahwa suaminya tewas ketika mencoba menghentikan penyandera menembak penumpang bis lainnya.

"Saya akan merindukan dia. Saya sebenarnya ingin meninggal dunia bersama dia. Tetapi saya memikirkan anak-anak kami," kata dia seperti dikutip kantor berita Prancis, AFP.

Dia sangat menyayangkan cara polisi menangani situasi dengan mengatakan: "Kenapa tidak ada seorang pun yang membantu kami setelah berjam-jam?"

Pemimpin pemerintah Hong Kong Donald Tsang juga mengkritik cara aparat menangani pembajakan bus ini.

"Penanganannya, terutama hasilnya, saya rasa sangat mengecewakan," kata dia.

Ancaman di radio

Image caption Penyandera marah kepada polisi yang diam-diam melakukan operasi pembebasan

Kolonel polisi Nelson Yabut mengatakan kepada para wartawan bahwa pria senjata itu diidentifikasi sebagai inspektur polisi senior berusia 55 tahun, Rolando Mendoza, tewas terbunuh setelah tembak menembak dengan polisi penembak jitu.

"Dalam serangan pertama kami, Kapten Mendoza berada di tengah bus dan menembak salah seorang petugas kami. Dalam serangan kedua, kami membunuh dia," kata Kolonel Yabut.

Stasiun-stasiun televisi di Filipina menyiarkan langsung drama pembebasan sandera ini dan juga memperlihatkan para sandera merangkak keluar dari bus lewat pintu belakang ketika pembajakan itu berakhir.

Penyandera itu bekerja sebagai polisi selama hampir 30 tahun di kepolisian Manila, tetapi dipecat tahun ini karena dituduh memeras.

Selama krisis penyanderaan, dia menempelkan tuntutannya di jendela bus - salah satunya adalah diangkat kembali sebagai perwira polisi.

Selama perundingan awal, sembilan orang dibebaskan dari bus dan pengemudi bus itu lari menyelamatkan diri meninggalkan 15 penumpang di dalam bus.

Salah seorang saudara laki-laki penyandera, yang juga perwira polisi, dipanggil untuk membantu tim perunding.

Tetapi ketika operasi polisi sedang berjalan, penyandera bersenjata itu berubah marah dan mengatakan kepada stasiun radio setempat bahwa dia akan menewaskan para sandera yang tersisa.

"Saya sudah menembak dua Cina. Saya akan habisi mereka semua jika (polisi) tidak berhenti," kata dia kepada jaringan Radio Mindanau.

"Saya bisa melihat banyak Swat (satuan polisi khusus bersenjata) datang. Saya tahu mereka akan membunuh saya. Mereka harus angkat kaki karena saya siap melakukan hal yang sama disini sekarang."

Akhir yang dramatis

Wartawan BBC di Asia Tenggara Rachel Harvey mengatakan penyandera bersenjata itu pasti sudah pernah dilatih taktik-taktik polisi, dan pasti sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya - jadi polisi bergerak dengan teramat sangat berhati-hati.

Sekitar sejam sebelum pembajakan berakhir, sekelompok petugas polisi mendekati bus itu dan berupaya masuk ke dalam dengan menghancurkan pintu belakang.

Tetapi mereka kemudian mundur ketika mendengar rentetan tembakan yang datang dari bus.

Tidak lama setelah itu, tayangan televisi memperlihatkan jenazah seorang pria ditendang keluar dari bagian depan bus.

Belakangan berbagai laporan menyebutkan bahwa mayat itu adalah mayat si penyandera yang tewas ditembak polisi.

Penyandera bersenjata itu naik ke bus di Taman Luneta di pusat kota Manila, dan drama penyanderaan itu berlangsung selama delapan jam itu berlangung di jalan berjalur delapan di dalam taman tersebut.

Berita terkait