NU tawarkan debat dengan pemimpin teroris

Pemimpin PBNU Said Agil Siradj
Image caption NU merasa banyak yang salah paham arti jihad dan mati syahid

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Agil Siradj mengatakan pihaknya siap berdebat dengan pemimpin teroris dalam menginterpretasi ajaran Islam dalam upaya membantu pemerintah memerangi terorisme.

Hal ini dia sampaikan saat menerima kunjungan Partai Demokrat di kantor PBNU Jakarta Selasa (28/9).

"Selama ini cara mengatasi mereka hanya dengan polisi. Jadi yang kita inginkan, supaya mereka pun cara berpikirnya berubah, bukan hanya takut pada polisi atau takut ditindak. Tapi berfikir, bisa berubah...begitu," jelas Siradj kepada BBCIndonesia.com Rabu (29/9).

Selanjutnya Siradj mengatakan perubahan yang dia maksud adalah pada pemahaman agama.

"Supaya mereka ngerti betul bahwa Islam itu bertentangan dengan kekerasan atau sebaliknya kekerasan itu bertentangan dengan agama."

"Dalam Al Quran disebut tidak boleh ada kekerasan dalam agama. Dibalik juga bisa, dalam agama tidak boleh ada kekerasan."

Akar terorisme?

Siradj mengakui bahwa memang ada banyak faktor yang membuat seseorang menjadi teroris, termasuk kesalahpahaman akan ajaran agama, kemiskinan dan mungkin juga balas dendam.

"Memang faktor orang menjadi teroris banyak tetapi minimal dari pihak saya, pihak NU siap untuk berdebat dari sisi pemahaman agama. Jadi tidak benar yang semua mereka lakukan itu adalah jihad, tidak benar kalau itu merupakan perintah agama. Tidak benar itu akan membesarkan nama Islam, justru sebaliknya itu justru memperburuk, mencoreng nama Islam dan itu bukan jihad. Itu konyol," tegas Siradj.

Said Agil Siradj adalah Ketua PBNU yang baru terpilih tahun ini dalam Muktamar di Makassar.

Saat ini adalah sekitar 150-an narapidana kasus terorisme yang mendekam dalam beberapa Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia.

Agil Siradj mengatakan ingin menemui mereka yang sedang menjalani hukuman dan yang sedang dibina oleh polisi.

"Supaya mereka berhenti melakukan itu [kegiatan terorisme] bukan karena takut dihukum tapi karena betul-betul merasa mereka itu salah dan Islam yang benar adalah yang membawa rahmat dan membawa misi perdamaian."

Siradj mengakui selama Nadhatul Ulama ini belum pernah diajak oleh aparat kepolisian untuk duduk bersama menentukan strategi memerangi ideologi kekerasan.

Dia juga mengaku belum pernah diajak untuk menemui para narapidana kasus terorisme.

Tawaran ini menurut Siradj berangkat dari keprihatiannya melihat kekerasan atas nama agama yang masih terus terjadi di Indonesia.

Berita terkait