Pemilihan parlemen di Bahrain

Kerajaan Bahrain
Image caption Bahrain relatif lebih demokratis dibanding negara Arab lainnya.

Kerajaan Bahrain hari ini (Sabtu 23 Oktober) menggelar pemilihan parlemen, yang ketiga kalinya sejak reformasi politik satu dekade lalu.

Namun pemilihan kali ini berlangsung dalam suasana yang tegang menyusul operasi pemberangusan atas kelompok oposisi, seperti dilaporkan wartawan BBC, Jon Leyne, dari Kairo.

Bahrain merupakan negara yang relatif lebih demokratis dibanding negara-negara tetangganya di dunia Arab.

Bagaimanapun demokrasi di negara itu masih terbatas dan anggota parlemen pemilih memiliki kekuasaan yang tidak banyak sehingga para pengkritik mengatakan sistemnya tidak benar.

Sebelum pemilihan parlemen ini, pemerintah menangkap beberapa pembangkang, membatasi kebebasan di media massa maupun internet dan beberapa kekerasan sempat marak di jalanan.

Islam dan sekularisme

Image caption Pemilu diwarnai ketegangan menyusul pemberangusan oposisi.

Persaingan utama dalam pemilu adalah antara kelompok Islam yang ketat dan kelompok yang memiliki pandangan sekular.

Kelompok Islam yang keras, misalnya, ingin memberlakukan larangan penjualan alkohol sementara saingannya berpendapat larangan itu akan menghambat upaya Bahrain untuk menjadi pusat keuangan bergaya Barat.

Selain itu, seperti dilaporkan wartawan kami, terasa juga ketegangan antara komunitas Islam Sunni dan Syiah.

Beberapa pihak mengatakan bahwa sistemnya sudah mengandung kecurangan dengan sehingga tidak memungkinkan Syiah menguasai parlemen walaupun merupakan mayoritas di negara itu.

Selain ketegangan di atas, para pengamat tampaknya juga ingin melihat apakah kaum perempuan bisa meningkatkan keanggotaannya di parlemen.

Saat ini hanya ada seorang perempuan di parlemen dan dia akan terpilih kembali karena tidak menghadapi persaingan.

Berita terkait