Pertemuan G20 diwarnai ketegangan mata uang

Pertemuan G20 di Seoul
Image caption Kekhawatiran pertemuan G20 di Seoul menjadi perdebatan soal mata uang.

Sistem keuangan dan perekonomian global akan menjadi agenda dalam pertemuan dua hari G20 di ibukota Korea Selatan, Seoul.

Namun ada kekhawatiran kalau pertemuan puncak akan menjadi ajang perdebatan antara Cina dan Amerika Serikat dalam hal yang disebut 'perang mata uang' dan ketimpangan perdagangan.

Washington menuduh Cina memanipulasi mata uang untuk mendorong ekspor Cina, yang menyebabkan Cina mampu menghimpun cadangan devisa asing.

Namun ada yang berbendapat kebijakan ekonomi Amerika -khususnya dalam menciptakan uang baru demi penurunan secara kuantitatif atau QE- juga bisa dilihat sebagai manipulasi mata uang.

Kepada BBC, Presiden Bank Dunia, Robert Zoellick, mengatakan jelas ada ketegangan dalam hal mata uang.

"Orang harus hati-hati dengan ketegangan ini karena anda tidak ingin tergelincir menjadi proteksionisme."

Dia menambahkan upaya Amerika Serikat mengangkat isu tentang Cina memang berguna.

Namun Zoellick menambahkan rencana lima tahun Cina untuk pembangunan ekonomi yang akan terfokus pada permintaan dalam negeri akan menjadi perubahan penting.

Kritik atas AS

Sementara itu dalam konferensi persnya, Menteri Keuangan Brasil, Guido Mantega, mengkritik program QE yang ditempuh Bank Sentral AS.

"Masalahnya dengan memasukkan tambahan US$600 miliar ke perekonomian AS adalah uang itu tidak akan mengalir untuk produksi, tidak akan menciptakan lapangan kerja dan juga tidak akan mendorong konsumsi domestik."

"Dengan lebih banyak uang di pasar, investor akan mengambil keuntungan dari tingkat bunga yang tinggi di tempat lain dan menaruh uang ke bursa saham atau berinvestasi di komoditi, sehingga meningkatkan harga dan menyebabkan inflasi di negara-negara seperti kami," kata Mantega.

Di balik bayang-bayang tuduhan menurunkan nilai dollar sebagai jalan menuju kesejahteraan, Presiden Barack Obama akan melakukan perundingan langsung terpisah dengan dua pengkritik kebijakan ekonomi AS, Presiden Cina, Hu Jintao, dan Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Presiden Obama mengatakan Amerika Serikat tidak bisa sendirian memulihkan pertumbuhan namun mengakui negaranya harus berubah.

Namun dia membela kebijakan AS sebagai upaya untuk menghentikan menurunnya kegiatan perekonomian akibat krisis yang paling dalam yang pernah dialami dalam beberapa generasi belakangan.

Dan dia kembali menyerukan agar negara-negara tidak mengandalkan ekspor sebagai jalan ke luar dari masalah ekonomi.

Berita terkait