Arab Saudi 'minta' Amerika Serikat serang Iran

Raja Abdullah
Image caption Permintaan Raja Abdullah termuat di dokumen yang dibocorkan Wikileaks

Salah satu dokumen resmi yang dibocorkan Wikileaks, situs pengungkap dokumen rahasia, menyebutkan bahwa Raja Abdullah dari Arab Saudi meminta Amerika Serikat menyerang dan menghancurkan fasilitas nuklir Iran.

Pesan dari raja Saudi soal Iran dilaporkan berbunyi: "Potong kepala ular."

Dokumen tentang permintaan Saudi dan berbagai pesan penting lain dimuat oleh lima surat kabar, di antaranya oleh The New York Times di AS dan The Guardian di Inggris.

Wartawan bidang Timur Tengah BBC Jeremy Bowen mengatakan kecurigaan Saudi, Yordania, dan beberapa negara lain di Timur Tengah tentang program nuklir Iran telah lama diketahui.

Yang mengejutkan adalah, kata Bowen, permintaan beberapa negara agar AS mengambil tindakan militer terhadap Iran.

Wartawan BBC mengatakan bocoran ini akan mempertajam pembahasan tentang program nuklir Iran dan kemungkinan aksi militer AS atau Israel terhadap Iran.

Dokumen tersebut juga akan membuat malu AS dan bagi para pemimpin Arab hampir dapat dipastikan mereka pasti akan marah karena pernyataan mereka dikutip di dokumen tersebut.

Sabotase komputer

Pesan-pesan lain yang dibocorkan Wikileaks mencakup Cina yang mengatur aksi sabotase komputer, termasuk upaya memasuki sistem komputer milik Google.

Ada pula dokumen yang menunjukkan agen-agen rahasia AS yang melancarkan operasi mata-mata terhadap para pejabat PBB.

Pemerintah AS mengecam keras penerbitan ratusan ribu dokumen rahasia dengan alasan pengungkapan dokumen tersebut mengancam jiwa diplomat dan sejumlah pihak lain.

Pernyataan Gedung Putih menyebutkan semua pihak yang selama mendukung pemerintah AS mendorong demokrasi dan pemerintah yang terbuka akan terancam dengan penerbitan dokumen ini.

"Presiden Obama mendukung pemerintah yang bertanggung jawab, akuntabel, dan terbuka di seluruh dunia. Penerbitan dokumen ini berbahaya dan mementahkan upaya pemerintah AS," kata Gedung Putih.

Pendiri Wikileaks, Julian Assange, menjawab tudingan ini dengan mengatakan pemerintah AS khawatir mereka akan dimintai pertanggungjawaban.

Berita terkait