Kekerasan Libia "seperti neraka"

Demonstran di Libia Hak atas foto BBC World Service
Image caption Demonstran antipemerintah di kota Benghazi

Tentara Libia melepaskan tembakan dengan senapan mesin ke arah pengunjuk rasa di kota Benghazi, kata para saksi mata.

Bentrokan terakhir terjadi hari Sabtu dan kota Benghazi, sekitar 1,000 km ( 600 miles) dari ibukota Tripoli, sudah digoncang gelombang unjukrasa antipemerintah sejak awal minggu awal ini.

Sebelumnya saksi mata juga mengatakan penembak jitu telah dikerahkan untuk membunuh para pengunjuk rasa dan demonstran membalas dengan menggunakan tongkat dan batu.

Seorang dokter di sebuah rumah sakit di Benghazi mengatakan ke BBC bahwa situasi di kota itu "seperti neraka" dan dia menyaksikan banyak orang yang dirawat karena luka tembak.

Kantor berita Associated Press dan televisi al-Jazeera melaporkan tentara melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa yang menghadiri pemakaman hari Sabtu (19/02), menewaskan setidaknya 15 orang.

Namun seorang saksi mata mengatakan kepada kantro berita Reuters bahwa korban tewas jauh lebih banyak dari 15 orang.

"Puluhan tewas....bukan 15, tapi puluhan," ujar saksi mata itu.

Seorang penduduk Benghazi juga mengatakan kepada BBC bahwa pasukan keamanan menggunakan mortar dan senapan mesin 14.5 mm - senjata berat yang biasanya diproduksi di bekas negara Sovyet.

Gelombang unjuk rasa ini menentang kepemimpinan Muammer Gaddafi, pemimpin dunia Arab yang paling lama berkuasa setelah melakukan kudeta di negara yang kaya minyak itu pada tahun 1969.

Libia adalah salah satu negara Arab yang mengalami pergolakan politik oleh gelombang unjuk rasa pro-demokrasi yang dimulai dari jatuhnya Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali di bulan Januari dan disusul oleh turunnya pemimpin Mesir Husni Mubarak awal bulan ini.

Berita terkait