Korban tewas demo Libia bertambah

Demonstran antipemerintah Hak atas foto BBC World Service
Image caption Tim medis mengatakan lebih dari 200 demonstran tewas dan 900 luka-luka

Rincian mengenai banyaknya jumlah korban tewas dalam aksi demonstrasi di Libia mulai muncul, setelah pasukan Libia meluncurkan operasi brutal melawan demonstran.

Lebih dari 200 orang diketahui tewas, menurut tim medis, dan 900 orang luka-luka.

Serangan yang paling berdarah dilaporkan terjadi di akhir minggu, ketika para pelayat yang sedang menghadiri prosesi pemakaman dilaporkan ditembaki dengan senjata mesin dan senjata berat.

Seorang doktor mengatakan tembakan baru sedang berlangsung, dan menyatakan kepada BBC bahwa yang terjadi adalah "pembantaian yang sesungguhnya".

Kelompok pegiat HAM Human Rights Watch melaporkan paling tidak 173 orang terbunuh di Libia sejak aksi unjuk rasa dimulai hari Rabu lalu.

Benghazi, kota terbesar kedua di Libia, menjadi pusat aksi demonstrasi menentang rezim Kolonel Muammar Gaddafi.

Libia adalah salah satu dari banyak negara di Timur Tengah yang dilanda gelombang protes pro-demokrasi sejak Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali digulingkan bulan Januari lalu.

Pemimpin Mesir Husni Mubarak kemudian juga dipaksa lengser tanggal 11 Februari.

Tantangan paling serius

Wartawan BBC urusan Timur Tengah Jon Leyne mengatakan kerusuhan terbaru di Libia ini merupakan tantangan paling serius bagi Kolonel Gaddafi selama lebih dari 40 tahun menjabat.

Laporan-laporan yang ada susah diverifikasi karena aparat Libia memberlakukan pembatasan besar-besaran terhadap media.

Doktor dari Benghazi, yang diketahui bernama Brayka, menjelaskan kepada BBC bahwa para korban dibawa ke rumah sakit Jala - sebagian besar menderita luka tembakan.

"Sembilan puluh persen yang luka adalah luka akibat tembakan sebagian besar di kepala, leher dan dada, terutama di jantung," katanya.

Dia mengatakan di ruang jenazah di rumah sakit Jala terdapat 208 mayat dari aksi brutal Sabtu, dan sebuah rumah sakit lain menyimpan 12 mayat.

Tetapi tidak jelas apakah semua mayat itu adalah korban kekerasan Sabtu lalu.

Seorang dokter lain mengatakan kepada kantor berita Associated Press jumlah jenazah yang serupa, tetapi dia menambahkan bahwa mayat-mayat itu mulai dibawa ke kamar mayat rumah sakit tersebut sejak kekerasan dimulai Rabu lalu.

Berita terkait