Demonstrasi di Oman renggut nyawa

Sultan Qaboos Hak atas foto BBC World Service
Image caption Sultan Qaboos telah merombak kabinet guna meredakan ketegangan

Sedikitnya dua orang tewas di Oman setelah pasukan keamanan mengeluarkan tembakan ke arah pengunjuk rasa yang menuntut reformasi politik, Minggu (27/2).

Selain korban tewas, sedikitnya lima orang mengalami luka-luka ketika menembakkan gas air mata dan peluru karet.

Bentrokan terjadi di kota industri Sohar, sebelah barat laut ibukota Oman, Muscat. Ratusan demonstran berkumpul di Sohar selama dua hari terakhir. Unjuk rasa juga terjadi di kota Salalah, Oman selatan.

Pada Sabtu, pemimpin Oman Sultan Qaboos Bin Said merombak kabinetnya sebagai upaya meredakan ketegangan. Sultan Qaboos mengganti enam menteri dengan alasan demi "kepentingan publik" dan mengumumkan bahwa tunjangan bagi mahasiswa akan dinaikkan.

Negara merdeka tertua di dunia Arab ini telah diperintah oleh Sultan Qaboos sejak ia merebut kekuasaan dari ayahnya, Sultan Saib bin Taimur pada 1970.

Oman mempunyai semacam MPR tetapi tidak semua penduduk dewasa Oman berhak memberikan suara dalam pemilihan untuk memilih anggota majelis. Fungsi majelis ini hanya sekedar penasehat dan tidak mempunyai wewenang legislatif.

Sebelum demonstrasi kali ini, Oman hampir steril dari kekacauan yang terjadi di sejumlah negara Arab selama bulan-bulan terakhir. Namun pekan lalu terdapat unjuk rasa di Muscat yang diikuti sekitar 300 orang untuk menuntut demokrasi dan lapangan kerja.

Oman, negara kaya minyak, terkenal sebagai tujuan wisata populer dan lama menjadi sekutu Amerika Serikat dan Inggris.

Berita terkait