Pemberontak Libia disambut Gedung Putih

Hak atas foto Reuters
Image caption Perwakilan pemberontak disambut di Gedung Putih, tapi AS belum beri pengakuan.

AS menyatakan, kesediaan Gedung Putih membuka pintu bagi perwakilan tim pemberontak Libia, tidak berarti AS mengakui mereka sebagai perwakilan sah negara Libia.

Ini adalah kunjungan pertama kalinya pimpinan pemberontak Libia itu ke Gedung Putih, setelah konflik bersenjata melanda Libia.

Perwakilan pemimpin pemberontak Libia, Mahmoud Jibril, bertemu dengan para pejabat di Gedung Putih hari Jumat (13/5), termasuk Penasihat Keamanan Nasional AS Tom Donilon.

Dalam perkembangan lain, pemimpin Libia Kolonel Muammar Gaddafi, dalam pesan resminya yang disiarkan televisi pemerintah, mengejek pasukan NATO gagal mendeteksi keberadaannya, saat serangan udara pasukan itu membombardir sejumlah lokasi di Tripoli.

Laporan media pemerintah Libia menyebutkan 11 orang ulama Muslim tewas akibat serangan udara NATO.

Dalam pernyataan yang dirilis Gedung Putih, Donilon berkata kepada Jibril bahwa AS memandang perwakilan pemberontak Libia itu "kredibel di mata rakyat Libya".

Namun AS dan Inggris sejauh ini tidak mengakui mereka sebagai perwakilan pemerintah Libya yang sah - berbeda dengan Prancis, Italia dan Qatar.

Hari kamis lalu, Jurubicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan pemberian pengakuan itu masih "prematur".

AS mengatakan, pengakuan itu harus datang dari rakyat Libya sendiri, dan bukan kekuatan asing.

Para pemberontak itu sebelumnya mengharap agar dapat mengakses aset milik rezim Libya yang telah disita.

Mr Carney mengatakan Amerika siap bekerja sama dengan Kongres untuk membuka aset sekitar $ 30 milyar, agar dapat digunakan untuk membantu para pemberontak.

'Kalian tidak dapat bunuh saya'

Sementara itu, juru bicara pemerintah Libia menyebutkan Gaddafi saat ini dalam kondisi sehat dan bersemangat tinggi

Keterangan ini disampaikan ketika Kota Tripoli, hari Jumat dan Sabtu pagi, dihujani sedikitnya enam ledakan besar - yang diyakini serangan udara NATO.

Hak atas foto Reuters
Image caption Gaddafi terlihat sehat saat tampil di televisi pemerintah, dan mengejek pasukan NATO.

Siaran televisi pemerintah menayangkan pidato Gaddafi yang isinya mencemooh serangan NATO tersebut.

Pemimpin Libya itu menyatakan terima kasih kepada rakyat Libia yang disebutnya telah "menyatakan keprihatinan mendalam, antusias dan penuh kasih, untuk menanyakan tentang keselamatan saya, setelah serangan tentara salib yang pengecut itu".

"Mereka pengecut, karena tidak bisa membunuh saya," tambahnya.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Italia mengatakan, Kolonel Gaddafi mungkin terluka dan melarikan diri akibat serangan udara NATO itu.

Sementara juru bicara Pemerintah Libia, mengatakan serangan udara pasukan NATO di Kota Brega telah mewaskan 11 orang ulama dan melukai 45 orang warga sipil.

Tetapi para pimpinan pemberontak di Kota Benghazi menyatakan tidak ada warga sipil yang menjadi korban.

Keterangan resmi NATO juga menyatakan tidak tahu-menahu tentang informasi yang menyebut ada serangan pihaknya di kota itu.

Berita terkait