Bank internasional simpan kekayaan Libia

Hak atas foto AP
Image caption HSBC diklaim pernah menyimpan sejumlah aset kekayaan Libia bernilai jutaan dolar Amerika.

Sebuah laporan dari organisasi nir laba Global Witness menyatakan sejumlah institusi keuangan internasional pernah menyimpan miliaran dolar AS uang milik Libia.

Di antara institusi-institusi keuangan dunia yang disebut Global Witness misalnya HSBC, Royal Bank of Scotland, Goldman Sachs, JP Morgan Chase, Nomura dan Societe General.

Namun, para pejabat institusi keuangan tersebut menolak menjelaskan apakah mereka pernah atau masih memiliki dana Libia itu.

Saat ini, semua aset kekayaan Libia sudah dibekukan Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Dokumen yang diterbitkan 2010 itu menunjukkan HSBC setidaknya pernah menyimpan US$292,7 juta atau Rp2,5 triliun dalam 10 rekening berbeda.

Sementara itu sebanyak US$43 juta atau sekitar Rp368 miliar dalam tiga rekening disimpan di Goldman Sachs.

Tak hanya itu sekitar US$4 miliar atau sekitar Rp34 triliun disimpan dalam bentuk investasi dan bentuk lainnya.

Bank Nomura Jepang dan Bank of New York tak ketinggalan menyimpan kekayaan Libia ini. Kedua bank itu masing-masing menyimpan US$500 juta atau Rp4,3 triliun.

Sedangkan di Bank Libia dan Timur Tengah tersimpan aset dengan nilai total US$19 miliar atau Rp162 triliun lebih.

Sanksi ekonomi

Laporan Globall Witness juga memperlihatkan bahwa Otoritas Investasi Libia (LIA) memiliki miliaran dolar dalam bentuk saham di berbagai perusahaan ternama dunia seperti General Electric, BP, Vivendi dan Deutsche Telekom.

"Sangat absurd jika HSBC atau Goldman Sachs berpikir bisa bersembunyi di balik kerahasiaan pelanggan dalam kasus seperti ini," kata Direktur Kampanye Global Witness Chairman Gooch.

"Ada banyak rekening pemerintah, sehingga dipastikan pelanggan mereka adalah warga Libia dan bank-bank ini memiliki informasi penting tentang mereka," tambah Gooch.

Dibentuk tahun 2006, LIA memiliki aset bernilai setidaknya US$470 miliar atau lebih dari Rp600 triliun. Dan menurut Sovereign Wealth Fund Institute, LIA adalah lembaga keuangan terbesar ke-13 di dunia.

Awal bulan ini, Uni Eropa memperpanjang sanksi ekonomi atas Libia. Sanksi itu mencakup LIA dan Bank Sentral Libia.

Sebelumnya Uni Eropa sudah membekukan aset milik Moammar Gaddafi dan anggota keluarganya.

Awalnya sanksi Uni Eropa tidak mentargetkan LIA karena muncul perdebatan apakah aset LIA adalah milik keluarga Gaddafi atau rakyat Libia.

Berita terkait