Mampukah Yingluck Shinawatra memimpin Thailand?

Yingluck Shinawatra Hak atas foto BBC World Service
Image caption Yingluck Shinawatra memimpin partai yang baru dibentuk dan menang besar

Setelah pasti menang dengan mayoritas besar dalam pemilihan umum di Thailand hari Minggu (3/7), banyak kalangan yang meragukan apakah Yingluck Shinawatra mampu menjalankan tugas sebagai perdana menteri.

Adik Thaksin Shinawatra, mantan PM yang digulingkan lima tahun lalu oleh militer, diperkirakan akan menghadapi banyak rintangan termasuk dobrakan terhadap tradisi laki-laki yang selalu menjadi perdana menteri.

Isu lainnya adalah kemampuan dia untuk memimpin pemerintahan dengan efektif mengingat kenyataan bahwa dia adalah adik Thaksin yang tidak disukai militer.

Ada pula yang memperkirakan Yingluck akan mengalami kesulitan karena dia akan dilihat sebagai perpanjangan tangan Thaksin sehingga akan menimbulkan masalah independensi pemerintahannya dari pengaruh sang kakak.

Duta Besar Indonesia di Bangkok, Muhammad Hatta, mengatakan bahwa dari sisi penerimaan rakyat terhadap seorang perdana menteri wanita, cukup jelas bisa dilihat dari hasil pemilihan umum itu.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Thaksin Shinawatra dikatakan sebagai "dalang" kemenangan adiknya, Yingluck Shinawatra

"Kalau kita lihat dari suara yang mereka berikan, ini kan luar biasa; 265 kursi dari 500 kursi di parlemen. Kalau dilihat dari situ, dukungan rakyat di bawah sangat besar pada rencana perubahan dan rencana rekonsilisi yang ditawarkan Yingluck," kata Hatta.

Di berpendapat, rakyat Thailand sekarang ini sudah lelah dengan pertarungan-pertarungan politik selama ini. Sekarang merekan menginginkan adanya kestabilan.

Militer netral

Di Thailand, militer masih dihitung sebagai salah satu faktor penting untuk keberlajutan pemerintahan. Kerena itu, menjadi sangat menarik untuk memperhatikan sepak-terjang institusi tersebut.

Dalam kaitan dengan kemunculan Yingluck, ada pertanyaan apakah dia akan mengalami masalah psikologis dengan militer.

Atau, apakah pertalian darah antara Yingluck dan Thaksin akan membuat dia pun akan tidak disukai militer.

Menurut Dubes Hatta, militer bisa fleksibel dengan berbagai situasi.

"Kalau saya perhatikan suasana kampanye, yang mereka lakukan itu kondusif dan tenang. Saya melihat militer berusaha netral dan itu terbukti dengan tidak adanya infiltrasi yang menimbulkan kemelut.

"Saya melihat militer akan memberikan kesempatan kepada pemenang untuk membentuk pemerintahan."

Bisakah Yingluck efektif

Ketika ditanyakan apakah Yingluck akan bisa memerintah secara ekekttif mengingat dia belum pernah menjadi pejabat publik selama ini, Dubes Hatta mengatakan ada kemungkinan lulusan Kentucky State University itu memiliki potensi yang tak terlihat selama ini.

"Kita belum bisa menduga karena dia baru saja memunculkan diri ke dunia politik.

"Tetapi kalau kita perhatian sejarah kemenagnan partai Pheu Thai yang baru didirikan dan langsung mendapat 265 kursi, ditambah dengan beberapa partai kecil yang akan bergabung sehingga menjadi 300 kursi, maka kita tidak bisa melihat dari luar apakah potensi tertentu dalam diri Yingluck untuk memimpin pemerintahan."

Muhammad Hatta mengatakan, pada saat-saat awal namanya muncul sebagai kandidat dari Pheu Thai, orang banyak bertanya-tanya apa yang akan dibikin orang baru ini.

Yingluck diragukan akan mampu bersaing menghadapi Abhisit Vejjajiva dan ketika diajak untuk debat terbuka, dia malah meminta agar diwakilkan saja.

"Kita ragu waktu itu. Namun setelah melihat kampanye-kampanyenya dengan tawaran rekonsiliasi dan program-program bagi masyarakat pedesaan, maka aspek ini perlu dihitung," ujar Dubes Hatta.

Berita terkait