Sudan Selatan bersiap merdeka

Tentara Sudan Selatan Hak atas foto AFP
Image caption Tentara Sudan Selatan mengadakan gladi resik menjelang hari kemerdekaan

Sudan Selatan bersiap untuk menjadi negara merdeka terpisah dari Sudan pada hari Sabtu (09/07).

Presiden Sudan Omar al-Bashir dan sejumlah tamu penting dari seluruh dunia akan menghadiri perayaan di ibukota Sudan Selatan, Juba.

Lebih dari 99% warga selatan mendukung rencana untuk memisahkan diri dari belahan utara Sudan dalam referendum bulan Januari.

Penyelenggaraan jajak pendapat tersebut menjadi bagian kesepakatan tahun 2005 untuk menghentikan perang saudara yang berlangsung sekitar dua puluh tahun dan menewaskan sekitar 1,5 juta jiwa.

Perayaan untuk menyambut kemerdekaan dan berdirinya Sudan Selatan akan dimulai tengah malam waktu setempat (0400 WIB, Sabtu) di sekitar jam hitung mundur yang dipasang di pusat kota Juba.

Wartawan BBC Will Ross di Juba mengatakan menjelang peristiwa bersejarah itu, stasiun radio mengumandangkan lagu kebangsaan baru Sudan Selatan.

''Merestui''

Image caption Warga Sudan Selatan memilih merdeka melalui referendum

Awal pekan ini, Presiden Sudan Omar al-Bashir menjanjikan dukungan kepada Sudan Selatan dan menyatakan dia menghendaki negara baru itu ''aman dan stabil''.

''Kami akan merestui saudara-saudara kami di selatan soal negara negara mereka dan kami mengharapkan mereka berhasil,'' kata Bashir, yang menandatangani perjanjian damai tahun 2005 dengan Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA).

Ada kekhawatiran bahwa perang akan berlanjut setelah pecah pertempuran akhir-akhir ini di dua kawasan di perbatasan, Abyei dan Kordofan Selatan, yang memaksa sekitar 170.000 warga mengungsi.

Namun, beberapa kesepakatan yang dicapai beberapa pekan terakhir, dan penarikan faksi yang bersaing dari perbatasan, meredakan ketegangan di sana.

Rebecca Garang, istri mendiang John Garang yang memimpin pemberontak Sudan selatan dalam perang saudara, mengatakan kepada BBC bahwa bangsanya tidak bertikai dengan orang-orang utara, tapi dengan pemerintah mereka.

Sementara itu, Amerika Serikat mendesak pemerintah Presiden Bashir agar mengizinkan pasukan penjaga perdamaian tetap berada di utara, setelah Khartoum beberapa kali mengancam mengusir mereka dari negara-negara bagian di belahan utara wilayahnya, Kordofan Selatan dan Nil Biru.

Berita terkait