MSF kaji kebijakan di Somalia

msf Hak atas foto BBC World Service
Image caption MSF bekerja di Somalia sejak 1991 dengan memberi bantuan medis bagi para pengungsi.

Organisasi bantuan medis internasional Doctors Without Borders atau Medicins Sans Frontieres, MSF, menyatakan penembakan dua anggotanya pada Jumat kemarin di ibukota Somalia sebagai tindakan terpisah.

Meski demikian organisasi ini menyatakan akan mengkaji kebijakan mereka di Mogadishu.

MSF sebelumnya mengkonfirmasi bahwa Philippe Havet, seorang dokter berusia 53 tahun dari Belgia, dan Andrias Karel Keiluhu, yang dikenal sebagai Kace, seorang dokter berusia 44 tahun asal Indonesia tewas tertembak di markas mereka di Mogadishu.

"Ini sepertinya tindakan terpisah dari seorang individu yang kontraknya belum diperbarui, dan itulah yang menjadi motivasinya untuk melakukan tindakan tersebut,'' kata Christopher Stokes Direktur Jenderal MSF Belgia.

Tetapi dia mengatakan bahwa MSF ''menghadapi sebuah dilema'' diantara keinginan untuk melanjutkan bantuan kemanusiaan di Somalia, salah satu daerah berbahaya di dunia bagi pekerja bantuan, dan segala resiko yang dilibatkan.

''Meski ini sebuah tindakan terpisah, dia bertindak dalam konteks kekerasan yang menyebar di sebuah negara dimana setiap orang memiliki sebuah senjata,'' kata Stokes.

Dengan dua pekerja bantuan asal Spanyol yang ditawan di Somalia, organisasi ini tengah ''mengkaji'' kemungkinan kelanjutan untuk bekerja di kawasan ini, tambah Stokes.

''Niat kami adalah mencoba untuk melanjutkan bantuan kemanusiaan di Somalia, tetapi kami juga harus menganalisa bagaimana seseorang mampu masuk dengan senjata meski ada penjagaan di kantor MSF,'' kata Stokes.

Pasukan keamanan telah menahan seorang lelaki, yang oleh saksi mata dan polisi diidentifikasi sebagai mantai pekerja MSF asal Somalia.

Sebelumnya, MSF menyatakan akan merelokasi sejumlah stafnya dengan alasan keamanan, tetapi ''tetap berkomitmen untuk melanjutkan bantuan kemanusiaan di Mogadishu dan bagian lainnya di Somalia''.

Dievakuasi ke Kenya

Image caption Somalia mengalami kekeringan dan ratusan ribu warganya terancam tewas kelaparan.

Jenazah dua korban penembakan kini telah dibawa keluar dari negara Tanduk Afrika ke Kenya, bersama sejumlah staf internasional lainnya, kata Mohamed Ibrahim seorang pejabt keamanan Somalia.

Havet bekerja dengan MSF sejak 2000 di sejumlah negara, termasuk Angola, Republik Demokratik Kongo, Indonesia, Lebanon, Sierra Leone, Afrika Selatan dan Somalia.

Sementara Keiluhu bekerja dengan MSF sejak 1998 di Indonesia termasuk di Ethiopia, Thailand and Somalia.

Penembakan ini merupakan serangan terbaru bagi pekerja kemanusiaan di Somalia.

Pekan lalu tiga pekerja bantuan asal Somalia, termasuk dua staf Program Badan Pangan Dunia ditembak mati di kawasan Hiran.

Pertengahan Oktober, doa dokter Spanyol yang bekerja untuk MSF diculik lelaki bersenjata di kamp Dadaab Kenya, sekitar 100km dari perbatasan Somalia dan tempat dimana ribuan pengungsi Somalia berada.

MSF telah bekerja di Somalia sejak 1991, memberikan bantuan medis termasuk membantu ratusan ribu pengungsi Somalia keluar ke sejumlah penampungan di beberapa negara sekitar.

Somalia, terlibat dalam perang sipil selama dua dekade terakhir dan termasuk negara Tanduk Afrika yang mengalami kekeringan.

Warga di tiga kawasan di Somalia Selatan dalam kondisi kelaparan dan sekitar 250.000 orang terancam tewas kelaparan, berdasarkan data PBB.

Berita terkait