Parlemen Mesir pasca-Mubarak resmi bertugas

para anggota parlemen mesir Hak atas foto AP
Image caption Para anggota parlemen berdoa untuk para korban revolusi di Mesir.

Parlemen Mesir pertama sejak jatuhnya Presiden Husni Mubarak hampir setahun lalu, resmi mulai bertugas hari Senin (23/1).

Wartawan BBC di Kairo Jon Leyne mengatakan sidang pertama yang semestinya bersifat prosedural, berjalan sedikit kacau karena beberapa anggota parlemen mengubah kalimat pengambilan sumpah.

Mereka antara lain menambahkan kata-kata bersumpah demi hukum Tuhan atau bersumpah untuk meneruskan revolusi di Mesir.

Di luar gedung parlemen terjadi beberapa unjuk rasa. Ada yang mendukung partai-partai Islam dan ada pula yang menuntut kebebasan akademik yang mereka pandang sedang terancam.

Parlemen pasca-Mubarak ini didominasi partai-partai Islam.

Partai bentukan Ikhwanul Muslimin, Partai Kebebasan dan Keadilan, meraih kursi terbanyak, 235 kursi atau 47,2% suara.

Partai Salafi yang berhaluan lebih keras berada di tempat kedua.

Berbagi kekuasaan?

Partai-partai liberal gagal meraih kemenangan besar.

Partai milik Ikhwanul Muslimin menegaskan mereka akan pragmatis dan mengedepankan kebijakan-kebijakan yang moderat.

Mereka bahkan tidak menuntut kursi di pemerintah sampai digelar pemilihan presiden Juni mendatang.

Partai Kebebasan dan Keadilan juga menjamin tidak akan ada perubahan dramatis guna menerapkan syariat Islam.

Meski demikian kalangan sekuler dan liberal yang memimpin revolusi mengatakan mereka khawatir akan terpinggirkan karena Ikhwanul Muslimin mungkin akan menggandeng dewan militer untuk berbagai kekuasaan.

Berita terkait