Presiden Senegal akui kekalahan

Pemilu Senegal
Image caption Pengakuan Wade atas hasil pemilu meredakan kekhawatiran akan kerusuhan di Senegal.

Presiden Senegal Abdoulaye Wade mengakui kekalahannya dalam pemilu dari saingannya Macky Sall, seperti disampaikan oleh media pemerintah.

Presiden menyampaikan pernyataan tersebut kepada mantan perdana menteri melalui telepon.

Wade telah mengubah konstitusi agar dia dapat mengikuti pemilihan presiden untuk ketiga kalinya.

Langkah tersebut memicu protes yang berujung pada kekerasan pada awal tahun ini, dan menyebabkan enam orang tewas.

Wade, 85 tahun, telah berkuasa di negara Afrika Barat itu selama 12 tahun.

Wade menelpon saingannya Macky Sall untuk menyampaikan selamat atas hasil pemilu yang dimenangkannnya, seperti diberitakan kantor berita Senegal, Minggu (25/3).

Sall, 50 tahun, sampai saat ini belum menyampaikan pernyataan publik.

Pesta di Dakar

Sebelum pengakuan Wade, ribuan pendukung Sall merayakan kemenangan di jalanan ibukota, Dakar.

Mereka berteriak "Presiden Macky!" dan "Kami telah menang!"

Langkah Wade meredakan kekhawatiran akan terjadinya kekerasan di negara tersebut, pasca pemilu.

Dalam pemilu putaran pertama Februari lalu, Wade tak lagi mampu meraih mayoritas dalam perolehan suara. Dia hanya mendapatkan 34,8% dan Sall 26,6%.

Sall berutang karir politik kepada Wade, dan pernah menjabat sebagai menteri selama beberapa kali, sebelum menjadi perdana menteri, sepertu dilaporkan wartawan BBC di Dakar, Thomas Fessy.

Sall telah berjanji, jika terpilih akan memperpendek masa jabatan presiden menjadi lima tahun dari tujuh tahun, dan hanya dapat menjabat selama dua periode.

Dia juga berjanji untuk mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan harga bahan pangan.

Pemimpin baru ini, juga menghadapi sejumlah persoalan seperti pengangguran yang meningkat di negara tersebut.

Berita terkait