Pemberontak Tuareg menyatakan kemerdekaan di Mali utara

Seorang warga Tuareg di Timbuktu. Hak atas foto Reuters
Image caption Seorang warga Tuareg di Timbuktu, yang saat ini dilaporkan dilanda kerusuhan.

Para pemberontak Tuareg di Mali utara sudah menyatakan kemerdekaan atas wilayah Azawad yang mereka kuasai sejak akhir bulan lalu.

Gerakan Nasional Pembebasan Azawad, MNLA, mengumumkan kemerdekaan melalui situs internetnya dan meminta pengakuan dari komunitas internasional.

Dalam pernyataannya, mereka juga menegaskan menghormati batas-batas negara lain.

Namun Menteri Pertahanan Prancis Gerard Longuet mengatakan bahwa pernyataan kemerdekaan MNLA itu tidak berarti apapun sampai diakui oleh negara-negara Afrika.

"Pernyatan kemerdekaan sepihak yang tidak diakui negara-negara Afrika tidak memiliki makna apapun," tegasnya seperti dikutip kantor berita AFP.

Sebelumnya, salah satu negara tetangga Mali, Aljazair, sudah menegaskan tidak akan pernah mengakui hal apa pun yang mempertanyakan integritas Mali.

"Kami menginginkan penyelesaian melalui dialog," kata Perdana Menteri Aljazair, Ahmed Ouyahia.

Bencana kemanusiaan

Kelompok pegiat hak asasi, Amnesty Internasional, sudah memperingatkan bahwa Mali saat ini sedang berada di ambang bencana kemanusiaan besar akibat pemberontakan.

Mereka juga menuntut agar badan-badan bantuan segera mendapat akses masuk ke Mali. Dalam beberapa hari belakangan, berlangsung penjarahan maupun penculikan di beberapa kota di Mali utara, seperti Gao, Kidal, dan Timbuktu.

Gelombang pengungsi dilaporkan meninggalkan kawasan yang dilanda kerusuhan menuju ibukota Bamako.

Badan-badan amal memperkirakan sekitar 13 juta warga Mali membutuhkan bantuan pangan karena negara itu dilanda kekeringan yang semakin diperburuk oleh konflik politik.

MNLA merupakan satu dari dua kelompok pemberontak di Mali yang berhasil merebut kekuasaan di beberapa wilayah dalam kekacauan politik yang diakibatkan oleh kudeta pemerintah nasional, dua pekan lalu.

Kelompok pemberontak ini terbentuk tahun lalu, antara lain oleh para pejuang Tuareg yang kembali dari Libia yang sebelumnya mendukung Kolonel Muammar Gaddafi.

Selain MNLA, kelompok lain yang juga berupaya untuk merebut kekuasaan di Mali adalah Ansar Dine, yang memiliki kaitan dengan al Qaida dan memperjuangkan penerapan Syariah Islam.

Berita terkait