Kelompok Islam, al-Nusra, mengaku di belakang bom Damaskus

Pemakaman korban bom bunuh diri di  Damaskus Hak atas foto Reuters
Image caption Pemakaman korban bom bunuh diri di ibukota Damaskus disiarkan oleh stasiun TV pemerintah.

Sebuah video yang diterbitkan di internet atas nama kelompok al-Nusra mengaku melakukan dua serangan bom di ibukota Suriah, Damaskus, Kamis 10 Mei.

Dalam rekaman video itu disebutkan bahwa pemboman dilakukan untuk membalas serangan atas kawasan penduduk sipil yang dilakukan oleh pasukan yang setia dengan Presiden Bashar al-Assad.

"Kami memenuhi janji kami untuk menanggapinya dengan serangan dan ledakan," seperti terdengar dalam siaran video tersebut.

Video itu juga memperingatkan agar umat Sunni tidak tinggal di kantor aparat keamanan dan sarang pemerintah.

Kelompok al-Nusra juga pernah mengaku bertanggung jawab atas serangan di Damaskus pada bulan Januari, yang menewaskan 26 orang.

Serangan di dekat kantor intelijen militer Suriah itu terjadi pada pagi hari, ketika orang-orang sedang berangkat kerja.

Sebanyak 55 orang tewas akibat dua serangan bom yang meledak berurutan dalam jangka waktu pendek sementara ratusan lainnya cedera.

Pemakaman atas korban yang tewas dilakukan Sabtu 12 Mei dan disiarkan oleh stasiun TV pemerintah.

Kaitan dengan al-Qaeda?

Pengamat keamanan BBC, Frank Gardner, melaporkan al-Nusra menyebut para pejuangnya sebagai mujahidin Suriah dalam arena jihad dan keberadaan kelompok ini masih belum terlalu jelas walau diperkirakan punya kaitan dengan al-Qaeda.

Taktik yang digunakan di Suriah ini mirip dengan serangan al-Qaeda di Irak.

Kelompok perlawanan menuduh pemerintah yang berada di belakang serangan itu sementara stasiun TV pemerintah tak lama setelah serangan terjadi menyebutnya sebagai 'serangan teroris'.

Pemerintah Damaskus berulang kali menuduh kelompok perlawanan mendapat dukungan dari al-Qaeda.

Kekerasan tetap marak di Suriah walau berlangsung gencatan senjata antara pemerintah Damaskus dengan kelompok perlawanan.

Sejak unjuk rasa antipemerintah Maret tahun lalu, PBB memperkirakan 9.000 orang tewas karena aksi kekerasan.

Berita terkait