Rakyat Serbia akan pilih presiden baru

Kandidat Presiden Serbia Hak atas foto AFP
Image caption Boris Tadic (kiri) dan Tomislav Nikolic menjadi kandidat terkuat capres Serbia.

Rakyat Serbia akan memberikan suaranya untuk menentukan apakah tokoh reformis Boris Tadic atau tokoh nasionalis Tomislav Nikolic yang akan menjadi presiden baru negeri itu.

Boris Tadic, yang sudah dua kali menjabat, menggambarkan pemungutan suara ini sebagai referendum untuk menentukan keanggotaan Serbia di Uni Eropa.

Selama menjadi presiden, Tadic melalui berbagai negosiasi terkait keinginan Serbia menjadi anggota Uni Eropa.

Sehingga, Tadic menilai kemenangan untuknya dan Partai Demokratik sangat penting untuk menjaga stabilitas Serbia selama satu dekade berikutnya.

"Kami menginginkan bagian kue itu, kondisi yang bagus untuk lapangan kerja dan jaminan investasi," kata Tadic dalam debat capres belum lama ini.

"Bosch, Siemens, Fiat dan Benetton tak akan pernah datang ke Serbia tanpa jaminan yang diberikan dengan status sebagai kandidat anggota UE," tambah dia.

Hasil pemilihan presiden ini tak hanya mempengaruhi prospek Serbia menjadi anggota Uni Eropa dan nasib Kosovo yang memisahkan diri dari Serbia pada 2008 lalu.

Fokus ekonomi

Sementara itu, Tomislav Nikolic yang sudah dua kali kalah dari Boris Tadic dalam kampanyenya menjanjikan akan fokus pada pertumbuhan ekonomi, investasi dan mengenakan pajak tinggi bagi warga kaya.

Nikolic juga dikenal sebagai tokoh yang menginginkan Serbia menjadi anggota Uni Eropa namun tidak dengan menempuh segala cara.

Partai Progresif Serbia yang mengusung Nikolic menjanjikan untuk menambah investasi di sektor pertanian dan industri.

Apalagi saat ini Serbia tengah dililit masalah pengangguran yang mencapai hampir seperempat populasi Serbia yang berjumlah hampir 7,5 juta jiwa itu.

Selain itu, Partai Progresif Serbia juga menjanjikan untuk mengenakan pajak tinggi untuk orang-orang kaya demi menambah tunjangan pensiun.

Selain masalah pengangguran, Serbia juga memiliki utang luar negeri yang mencapai £19,5 juta.

Pemilihan presiden ini pada putaran pertama 6 Mei lalu sempat diguncang rumor adanya kecurangan

Para pendukung kubu nasional menuding kubu Boris Tadic telah memalsukan sedikitnya 500.000 surat suara.

Namun, Komisi Pemilihan Umum dalam penyelidikannya tidak menemukan adanya kecurangan yang dikeluhkan Nikolic.

Berita terkait