AS pangkas dana bantuan untuk Pakistan

Hak atas foto AP
Image caption AS menilai Pakistan tidak banyak melakukan usaha meredam militansi.

Senat AS memangkas dana bantuan untuk Pakistan karena telah memenjarakan seorang dokter yang membantu CIA menemukan Osama Bin Laden.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan penahanan Shakil Afridi seorang dokter asal Pakistan sebagai tindakan yang ''tidak adil dan tidak beralasan''.

''AS tidak mempercayai ada dasar yang cukup untuk menahan Dr Afridi. Kami menyayangkan fakta bahwa dia dinyatakan bersalah dan beratnya hukuman,'' kata Clinton.

Dr Afridi disidang karena dianggap mengkhianati sistem undang-undang kesukuan saat menjalani program vaksinasi palsu untuk mengumpulkan informasi untuk intelejen AS.

Osama Bin Laden tewas dalam penggerebekan pasukan AS di Abbottabad, Pakistan, Mei 2011.

''Kami membutuhkan Pakistan, Pakistan butuh kami, tetapi kami tidak butuh pandangan ganda Pakistan dan tidak melihat keadilan dalam membawa kejatuhan Osama Bin Laden,'' kata Lindsey Graham, Senator Republikan yang menyebut Pakistan sebagai ''sekutu schizofrenia''

Wartawan BBC di Washington melaporkan, pemangkasan sebesar US$33 juta atau sekitar RP311 miliar tersebut menunjukkan betapa frustasinya Kongres atas peran Pakistan dalam melawan terorisme di negara mereka.

Program vaksinasi

Hak atas foto AP
Image caption Shakil Afridi membuat program vaksinasi palsu guna mengumpulkan data intelejen untuk CIA.

Pembunuhan Osama Bin Laden sendiri menimbulkan ketegangan diantara AS dan Pakistan yang pemerintahannya merasa malu karena Bin Laden bersembunyi di Pakistan.

Islamabad juga merasa operasi tertutup AS dalam memburu Bin Laden melanggar kedaulatan mereka.

Tidak lama setelah penggerebekan rumah Bin Laden, Dr Afridi ditangkap dengan tuduhan konspirasi melawan negara Pakistan.

Pakistan bersikeras bahwa negara manapun akan melakukan hal yang sama jika menemukan warga negaranya bekerja untuk badan intelejen asing.

Dr Afridi dinyatakan bersalah dalam persidangan di distrik Khyber, dan di denda US$3.500 atau sekitar Rp330juta. Jika dia tidak membayar denda, hukuman penjaranya akan ditambah tiga tahun.

Dr Afridi, yang ditahan di penjara Peshawar, tidak menghadiri persidangan sehingga tidak bisa memberikan kesaksian cerita versi dirinya.

Tidak jelas apakah Dr Afridi tahu siapa target investigasinya ketika direkrut CIA, atau DNA siapa yang dia kumpulkan melalui sebuah program vaksinasi hepatitis B palsu.

Ide program vaksinasi yang dijalan DR Afridi adalah mengumpulkan sampel darah dari anak-anak yang hidup di Abbottabad, sehingga tes DNA bisa dilakukan untuk mengetahui apakah mereka bagian keluarga Bin Laden atau bukan.

Selain masalah Osama Bin Laden, isu serangan pesawat berawak yang dilakukan Nato juga menyebabkan Pakisan menolak untuk membuka kembali jalur persediaan Nato ke Afghanistan yang melintasi Pakistan.

AS dan Pakistan juga gagal mencapai kesepakatan di KTT Nato di Chicago terkait masalah jalur persediaan karena Islamabad menuntut tarif lebih dari US$5.000 atau sekitar Rp47 juta per truk saat transit, meningkat dari sebelumnya yang hanya sebesar US$250 atau Rp2,39 juta.

Berita terkait