Tiga tewas dalam serangan atas stasiun TV propemerintah Suriah

Stasiun TV propemerintah Suriah yang diserang Hak atas foto AP
Image caption Stasiun TV propemerintah Suriah yang rusak karena serangan sekelompok pria bersenjata.

Sekelompok pria bersenjata menyerang sebuah stasiun TV propemerintah Suriah dan menewaskan tiga orang, Rabu 27 Juni.

Kantor berita resmi Suriah melaporkan serangan atas stasiun TV Ikhbariya di pinggiran Damaskus itu menghancurkan ruang berita.

Menteri Penerangan Suriah, dalam kunjungan ke lokasi kejadian, mengatakan ketiga korban diculik, diikat, dan dibunuh secara kejam.

Wartawan BBC, Jim Muir, di Beirut melaporkan stasiun TV Suriah menghentikan acara rutinnya dan menyiarkan laporan langsung tentang serangan atas TV Ikhbariya di kota Drusha, sekitar 20km, dari Damaskus.

Siaran TV pemerintah menunjukkan bangunan yang rusak dan asap masih terlihat mengepul.

Serangan atas stasiun TV Ikhbariya ini terjadi setelah berlangsungnya bentrokan di Damaskus yang menurut pihak oposisi merupakan yang terburuk di ibukota tersebut sejauh ini. Belasan orang tewas dalam bentrokan tersebut.

Pekan paling berdarah

Lembaga hak asasi Suriah yang bermarkas di Inggris mengatakan pertarungan di Damaskus terjadi di dekat posisi Pengawal Republik yang dipimpin oleh saudara Presiden Assad, Maher, yang bertugas melindungi ibukota.

Mereka juga mengatakan bentrokan antara pasukan pemerintah dan kelompok perlawanan selama tujuh hari belakangan ini merupakan yang paling parah.

"Pekan lalu merupakan pekan paling berdarah bagi Repolusi Suriah," kata Rami Abdel Rahman dari Lembaga Pengawas Hak Asasi Suriah kepada kantor berita AFP.

Dia menambahkan bahwa sepanjang periode 20 hingga 26 Juni, mereka mencatat jumlah korban jiwa mencapai 916 orang.

Dalam perkembangan lain, sumber-sumber Suriah mengatakan bahwa seorang perwira tinggi Angkatan Udara, Mayor Jenderal Faraj Shehadeh, diculik oleh kelompok pria bersanjata dari rumahnya di Damaskus.

Hingga saat ini diperkirakan sekitar 15.000 orang tewas dalam konflik di Suriah sejak unjuk rasa antipemerintah marak sekitar 15 bulan lalu.

Berita terkait