Sekjen PBB kunjungi Srebrenica

Keluarga korban pembantaian Hak atas foto REUTERS
Image caption Ban Ki-Moon mengatakan PBB memetik pelajaran besar dari kegagalan melindungi Srebrenica.

Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-Moon berkunjung ke Srebrenica, tempat pembantaian sekitar 8.000 pria Muslim oleh pasukan Serbia tahun 1995.

Ban Ki-Moon menjadi petinggi PBB yang berkunjung ke kota itu. Ia meletakkan karangan bunga di tugu kenangan yang dibangun untuk mengenang korban pembantaian terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II itu.

Ban Ki Moon mengakui bahwa PBB yang seharusnya melindungi Srebrenica, gagal melakukan tugasnya.

Dalam pidato di parlemen Bosnia, Ban Ki-Moon mendesak dunia untuk memetik pelajaran dan dimulai dengan apa yang ia sebut upaya menghentikan pembunuhan di Suriah.

Ia juga berkunjung stadium Sarajevo yang digunakan untuk Olimpiade musim dingin taun 1984.

Dua orang yang dituduh menjadi dalang pembantaian Srebrenica, mantan pemimpin Radovan Karadzic dan Jendral Ratko Mladic, saat ini tengah diadili di mahkamah kejahatan perang Yugoslavia di Den Haag, Belanda.

Pelajaran

Bersama istrinya, Ban Ki-Moon membungkukkan badan saat mengunjungi makam para korban pembantaian Srebrenica sebelum bertemu dengan para janda dan korban selamat lain.

Ia meletakkan karangan bunga putih di tugu peringatan para korban.

Hari Rabu (25/07), sekretaris jendral PBB itu berpidato di depan para anggota parlemen Bosnia dan mengatakan, "Tragedi dengan skala seperti itu, begitu banyak pertumpahan darah dan banyak pihak yang disalahkan."

"Masyarakat internasional gagal mencegah terjadinya pembantaian. Namun kami telah memetik pelajaran dari kejadian mengerikan ini dan tetap masih belajar."

Hasan Nuhanovic, mantan penterjemah untuk batalion pasukan Belanda untuk PBB di Srebrenica yang kehilangan kedua orangtua serta saudara laki-lakinya mengatakan kepada kantor berita AFP, "PBB harus menetapkan posisi dan mengakui tanggung jawabnya.

"Orang yang mengangkut keluarga saya ke pasukan Serbia adalah pasukan (PBB) dengan helm biru," katanya.

"Tidak ada organisasi manapun yang lebih bertanggung jawab selain PBB," katanya.

Berita terkait