Hashemi menolak vonis bersalah Irak

Terbaru  10 September 2012 - 22:39 WIB
Tariq al-Hashemi

Tariq al-Hashemi merupakan pejabat Sunni tertinggi di pemerintahan Irak.

Wakil Presiden Irak yang buron, Tariq al-Hashemi, menolak vonis bersalah dan hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya secara in absentia.

Dalam pernyataan pers yang disampaikan di Turki, dia mengatakan keputusan dan hukuman tersebut bermotif politik.

Hari Minggu (09/09), pengadilan di Irak memutuskan Hashemi bersalah karena menjalankan pasukan pembunuh.

Dia menegaskan tidak bersalah dan kepada BBC mengatakan ingin kembali ke Irak jika dia mendapat pengadilan yang jujur dan seimbang serta mendapat jaminan perlindungan.

Namun dia mengecam pengadilan Irak dengan menyebutnya berada di bawah pengaruh Perdana Menteri Nuri al-Maliki.

"Saya memiliki lebih dari 20 keping bukti bahwa masalah ini tidak lebih merupakan politik karena semua dokumen dalam masalah ini dipegang oleh Maliki dan bukan pengadilan Irak," tuturnya.

Tuduhan aksi teror

"Saya memiliki lebih dari 20 keping bukti bahwa masalah ini tidak lebih merupakan politik karena semua dokumen dalam masalah ini dipegang oleh Maliki dan bukan pengadilan Irak."

Tariq al-Hashemi

Menurutnya pemerintahan pimpinan Maliki yang didominasi warga Syiah 'mengarahkan' ketegangan sektarian dan mendesak para pendukungnya untuk memperlihatkan kedisiplinan diri yang tinggi.

Dia menambahkan pemerintah Amerika Serikat menutup mata atas perilaku buruk Maliki karena pemilihan presiden yang akan berlangsung di AS pada November tahun ini.

Pengadilan di Irak juga menyatakan seorang menantu prianya bersalah dalam dua pembunuhan dan menjatuhkan hukuman mati lewat tiang gantungan.

Hashemi merupakan pejabat Sunni yang paling senior dalam pemerintahan Irak. Dia berasal dari blok politik Sunni yang sekuler, Iraqiyya, dan menjadi wakil presiden sejak tahun 2006.

Pada tanggal 19 Desember 2011 -sehari setelah pasukan terakhir Amerika Serikat meninggalkan Irak- pemerintah Baghdad mengeluarkan surat penangkapan atas Hashemi.

Dia dituduh melakukan aksi teror terhadap pejabat pemerintah maupun aparat keamanan.

Kekerasan meningkat

Kekerasan di Irak

Kekerasan meningkat di Irak dalam beberapa waktu belakangan ini.

Setelah surat penangkapan terhadap dirinya dikeluarkan, Hashemi awalnya mengungsi ke kawasan otonomi Kurdi di Irak utara dan dari sana melarikan diri ke Qatar sebelum pindah ke Turki.

Jaksa penuntut mendakwanya dengan keterlibatan atas 150 kasus pembunuhan dan selama pengadilan in absentia di Baghdad, beberapa mantan pengawalnya mengatakan Hashemi yang memerintahkan pembunuhan.

Kasus yang dihadapinya ini memicu krisis politik di Irak dan bersamaan dengan meningkatnya kekerasan di Irak.

Dalam 20 serangan kekerasan di sejumlah tempat di Irak pada Minggu 9 September, sebanyak 92 orang tewas dan lebih dari 350 lainnya cedera.

Hashemi juga merujuk secara tidak langsung kepada Iran dengan menyebut berkembangnya pengaruh dari negara tetangga atas urusan dalam negeri Irak.

Banyak warga Sunni yang yakin bahwa mereka disingkirkan dan menjadi sasaran umat Syiah, yang mengembangkan pengaruhnya di Irak sejak serangan yang dipimpin pasukan Amerika Serikat.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.