Kuwait gelar pemilu meski ada ancaman boikot

Terbaru  1 Desember 2012 - 16:24 WIB
kuwait election

Sejumlah warga tetap memberikan suara meski ada seruan boikot.

Warga Kuwait memberikan suara untuk kedua kalinya tahun ini dalam pemilu parlemen ditengah-tengah ancaman boikot dari oposisi.

Pada malam sebelum pemilihan, puluhan ribu pendemo memadati Kuwait City menyerukan pemboikotan menyusul perubahan sistem pemilihan bulan lalu.

Oposisi mengatakan perubahan itu memanipulasi pemilihan yang lebih menguntungkan kandidat pendukung pemerintah.

Ketegangan antara oposisi dengan pemerintah ini telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Bagaimanapun tempat pemungutan suara di distrik berpengaruh Rumaithiya terlihat sibuk pada Sabtu pagi, demikian laporan wartawan BBC di Kuwait.

Sementara kantor berita FP melaporkan sebuah tempat pemungutan suara di Salwa, 15km selatan Kuwait City, terlihat lebih sedikit didatangi warga.

Suasana hati menantang

kuwait demo

Oposisi Kuwait menilai dekrit hanya untuk menguntungkan keluarga emir.

Kemarahan oposisi didorong oleh dekrit 19 Oktober yang dikeluarkan emir Sheikh Sabah al-Sabah, yang keluarganya - keluarga Sabah - mendominasi pemerintah Kuwait.

Krisis dimulai Juni silam, saat Mahkamah Konstitusi membatalkan hasil pemilihan parlemen Februari, yang dimenangkan oposisi Islamis.

MK juga mengembalikan kekuasaan parlemen lama yang dikuasai oleh keluarga Sabah yang berkuasa.

Setelah aksi protes berbulan-bulan, emir Kuwait memerintahkan pembubaran parlemen tersebut dan mengumumkan pemilihan baru.

Tetapi dekrit emir bulan lalu memotong jumlah pemilih yang berhak memberikan suara dari empat menjadi satu, dengan menyatakan akan menjamin perwakilan yang lebih adil di parlemen.

Perubahan ini justru dianggap sebagai pengaruh pemerintah atas hasil pemilihan nanti.

Anggota oposisi parlemen mengatakan perubahan itu melanggar konstitusi negara Teluk tersebut. Dan imbasnya mereka memutuskan untuk tidak ikut serta dalam pemilihan.

"Kami ingin demokrasi yang sesungguhnya, ada pemilu bukan berarti kami memiliki demokrasi."

Rana Abdel Razak

Aksi demo Jumat kemarin menyampaikan kemarahan atas apa yang disebut sebagai keputusan sepihak dari emir untuk mencurangi pemilu, yang tidak akan menciptakan parlemen yang mewakili semua orang.

Wartawan BBC melaporkan perbedaan politik di Kuwait saat ini meningkat pada level yang tidak biasa.

Dengan membawa spanduk bertuliskan ''kekuatan absolut yang korup'', para pendemo berjalan di Kuwait City meneriakkan ''kami memboikot'' dan ''warga ingin menjatuhkan dekrit''.

Aksi ini dipimpin oleh mantan anggota parlemen Islamis, liberal dan kaum muda yang digambarkan dalam suasana hati yang menantang.

Mantan anggota parlemen Falah Al Sawagh mengatakan aksi ini bukan hanya terkait undang-undang pemilu, tetapi juga tentang rencana reformasi jangka panjang di Kuwait.

''Ini baru permulaan,'' katanya.

Seorang pendemo lainnya Rana Abdel Razak mengatakan aksi akan terus berlangsung meski pemilu telah digelar.

"Kami ingin demokrasi yang sesungguhnya, ada pemilu bukan berarti kami memiliki demokrasi,'' tambahnya.

Parlemen Kuwait memiliki kekuasaan terbesar dari badan lainnya di Teluk dan oposisi mengkritik kekuasaan keluarga Sabah di parlemen.

Keluarga Sabah juga memegang penuh memegang kekuasaan penuh di pemerintahan dan jabat eksekutif lainnya.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.