Penyanderaan di Aljazair dikecam

Aljazair
Image caption Sejumlah sandera dilaporkan berupaya untuk kabur dari kompleks gas Amenas.

Negara-negara yang warga negaranya menjadi sandera di Aljazair di kompleks eksplorasi gas alam, menyampaikan keprihatinan terhadap peristiwa tersebut.

Menteri Luar Negeri Hillary Clinton menggambarkan situasi "sangat sulit dan berbahaya".

Media pemerintah Aljazair memberitakan ratusan sandera telah dibebaskan di wilayah fasilitas gas di gurun Amenas, sekitar 30 warga asing masih belum diketahui keberadaannya.

Kantor berita pemerintah APS menyebutkan 12 orang warga Aljazair dan pekerja asing tewas sejak upaya penyelamatan dilakukan pada Kamis.

Operasi pembebasan sandera telah dilakukan selama sekitar 36 jam.

Keterangan otoritas Aljazair seperti diberitakan APS menyebukan skeitar 573 orang warga Aljazair dan sekitar 100 dari 132 pekerja asing telah dibebaskan dan 18 orang militan tewas.

Militan masih berada di lokasi, seperti disampaikan APS. Sekitar 10 orang warga Inggris diperkirakan masih ditahan.

'Perhatian penuh'

Clinton mengatakan Perdana Menteri Aljazair Abdelmalek Sellal menyampaikan pada Jumat (18/1) bahwa "operasi masih berlangsung, dan situasi mulai mencair, dan bahwa para sandera masih dalam bahaya".

Dia mendesak 'perhatian penuh' harus diambil untuk melindungi sandera warga Aljazair dan pekerja asing.

Pejabat AS mengkonfirmasi bahwa masih ada warga Amerika yang ditahan di lokasi eksplorasi gas di Aljazair dan kembali menyatakan bahwa "Amerika Serikat tidak bernegosiasi dengan teroris".

Departemen Luar Negeri AS juga mengkofirmasi bahwa sandera Amerika, Frederick Buttaccio, tewas daam peristiwa tersebut.

Dua lainnya, seorang warga Inggris dan Aljazair dilaporkan tewas pada Rabu (16/1) ketika militan menyerang dua bus yang membawa pekerja asing ke fasilitas kompleks gas ke bandara lokal.

Pejabat di sejumlah negara termasuk Jepang, mengecam kejadian tersebut.

Dalam keterangan pers ditengah kunjungannya ke Jakarta, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyatakan kecamannya terhadap peristiwa penyanderaan yang juga terjadi terhadap warga negaranya.

"Menyandera dan membunuh orang yang tidak bersalah harus dikutuk dengan keras, pemerintah Jepang bekerja sama dengan pihak terkait untuk memperoleh informasi selengkap mungkin, prioritas tertinggi adalah keselamatan mereka," kata Abe.

Selain Jepang, Norwegia, AS dan Australia mengkonfirmasi bahwa sjeumlah warga negara mereka berupaya untuk kabur dari penyanderaan.

Satu orang warga Prancis, Yann Desjeux, tewas dalam operasi militer, seperti disampaikan oleh Menlu Prancis Laurent Fabius.

Berita terkait