AS dan Cina kecam uji coba nuklir Korut

Berita tentang uji coba nuklir Korut
Image caption KCNA mengatakan uji coba menggunakan peralatan yang lebih ringan dibanding sebelumnya.

Presiden Barack Obama mengecam uji coba nuklir Korea Utara dan mendesak tanggapan internasional yang 'cepat' dan 'masuk akal.'

Dalam pernyataannya, Presiden Obama menyebut uji coba sebagai tindakan yang amat provokatif yang melanggar kewajiban Korea Utara berdasarkan resolusi PBB.

Ditambahkannya uji coba akan membuat pemerintah Pyongyang akan lebih terisolasi dan bertekad akan mengupayakan tanggapan yang tegas.

"Jauh dari tujuan yang dinyatakan untuk menjadi bangsa yang kuat dan sejahtera, Korea Utara sebaliknya meningkatkan isolasi dan kemiskinan rakyatnya melalui upaya yang keliru untuk senjata perusak massal dan cara-cara mencapainya," seperti tertulis Obama dalam pernyataanya.

Kecaman juga disampaikan beberapa negara lain, seperti Korea Selatan, Rusia, Jepang, dan juga Cina, yang merupakan sekutu erat Korea Utara.

Kantor berita resmi KCNA mengukuhkan uji coba nukli r Korea Utara Selasa 12 Februari itu yang disebut menggunakan peralatan nuklir yang lebih ringan dibandung uji coba sebelumnya tahun 2006 dan 2009.

Pernyataan keras Cina

Image caption Berita tentang uji coba nuklir Korut di koran Jepang, yang ikut mengecam.

Cina -yang merupakan sekutu paling erat Korea Utara- juga menyatakan penentangan yang keras dan mendesak digelarnya perundingan denuklirisasi yang baru.

Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri mencerminkan rasa frustasi atas perilaku provokatif dari negara tetangganya itu namun pada saat bersamaan menyatakan keengganan untuk menerapkan sanksi yang lebih keras atas Korea Utara.

"Republik Rakyat Korea yang tidak perduli atas penentangan internasional kembali melaksanakan uji coba nuklir, dan pemerintah Cina mengungkapkan penentangan yang tegas."

Namun tidak disebutkan tindakan yang akan diambil Beijing atas uji coba nullir Korea Utara itu.

Pernyataan Cina mendesak agar semua pihak menanggapi secara tenang dan masalah itu harus diselesaikan lewat perundingan yang sudah lama terhenti, yang melibatkan Korea Utara, Cina, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Rusia.

Berita terkait