PBB mengutuk serangan di Somalia

somalia
Image caption Sebuah bom mobil meledak depan pagar biru kantor PBB di Mogadishu.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon menyatakan kemarahannya atas serangan bom oleh sekompok Islamis di kantor PBB Somalia yang menewaskan 15 orang.

Dia juga menekankan kejadian tersebut "tidak akan menghalangi PBB untuk menjalankan amanatnya" di Somalia, kata juru bicara Ban, Martin Nesirky.

Para penyerang meledakkan sebuah bom mobil di luar kantor PBB di ibukota Mogadishu dan terlibat dalam pertempuran senjata dengan pasukan keamanan.

Sebuah kelompok Islam yang terkait dengan al-Qaeda, yaitu Al-Shabab, kemudian mengatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Ini adalah pertama kalinya kantor PBB diserang setelah baru-baru ini memulai kembali misinya di Somalia.

Tindakan putus asa

Utusan PBB untuk Somalia, Nicholas Kay, yang tidak terluka dalam serangan itu, mengatakan kepada BBC bahwa badan dunia akan terus menjalankan misinya untuk membantu Somalia membangun perdamaian dan pembangunan.

Dia mengatakan Somalia telah "berubah drastis" setelah puluhan tahun konflik, dan serangan al-Shabab pada Rabu (19/06), adalah "tindakan yang putus asa".

"Pada tahap ini tujuan kami adalah untuk tetap pada misi dan tidak meninggalkan Somalia," katanya.

Dia menambahkan bahwa salah satu anggota staf UNDP internasional, tiga kontraktor yang bekerja untuk sebuah perusahaan Afrika Selatan dan empat penjaga Somalia tewas dalam serangan itu.

Sementara tujuh orang bersenjata al-Shabab tewas dalam serangan.

Perdana Menteri Somalia Abdi Farah Shirdon Saaid memuji respon cepat aparat keamanan.

"Somalia dan pasukan keamanan Amisom segera menanggapi situasi setelah ledakan awal dan dapat mengontrol situasi. Sayangnya kita harus menunggu untuk mendengar rincian lengkap dan konfirmasi jumlah korban," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Semua pikiran dan doa kami menyertai rekan-rekan PBB hari ini. Tapi al-Shabab tidak akan menggagalkan proses perdamaian. Mereka tidak akan menghentikan perbaikan. Kekerasan tidak akan menang."

Tahun lalu, ibukota Mogadishu juga diguncang dua bom bunuh diri yang menewaskan sedikitnya 14 orang. Korban tewas termasuk mantan editor TV Nasional Somalia, Liban Ali Nur, dua wartawan lainnya dan dua polisi.

Berita terkait