Malaysia lakukan razia pekerja ilegal

malaysia
Image caption Pemerintah Malaysia menargetkan untuk mendeportasi 500.000 pekerja migran ilegal

Malaysia akan melancarkan razia terhadap pekerja migran ilegal yang berada di negara itu, pasca terjadinya "gelombang kejahatan" yang membuat negara itu membenahi keamanan mereka.

Dalam operasi selama tiga bulan yang dimulai hari Minggu (25/08), pemerintah Malaysia menargetkan dapat mendeportasi sekitar 500.000 pendatang.

Sebagian besar pekerja migran ilegal itu berasal dari Indonesia, seperti dikatakan oleh Dirjen Departemen Imigrasi Malaysia, Alias Ahmad, seperti dikutip kantor berita AFP.

Harian Star melaporkan tidak kurang dari 135.000 personil imigrasi akan diturunkan dalam razia "besar-besaran" tersebut.

Belum lama ini, Malaysia dikejutkan dengan belasan kasus penembakan misterius yang menelan korban jiwa.

Polisi menuduh pertikaian antar geng merupakan sumber baku tembak tersebut.

Meski pun pendatang asing biasanya tidak dianggap sebagai pembuat onar, kehadiran pekerja migran ilegal dalam jumlah besar membuat khawatir pemerintah Malaysia.

Menegakkan hukum

Kekerasan itu menambah ketakutan masyarakat yang menilai terjadi peningkatan dalam kejahatan seperti pencurian dan perampokan meski data pemerintah menunjukkan bahwa angka kriminalitas menurun tajam.

Image caption Indonesia merupakan salah satu negara asal pekerja migran terbesar di Malaysia

Polisi mengatakan 1.400 orang tersangka kejahatan telah ditahan dalam tiga hari pertama razia.

Namun polisi tidak mengungkapkan mayoritas kebangsaan mereka.

Alias mengatakan pemerintah Malaysia memutuskan untuk mendeportasi para pekerja migran ilegal yang dua tahun lalu telah mendaftar untuk mengikuti skema pemutihan dokumen tetapi tidak melanjutkan proses legalisasi.

"Kini saatnya untuk menegakkan hukum secara penuh," kata Alias pada harian Star. "Mereka bisa saja bersembunyi tapi sampai kapan?"

Malaysia, ekonomi terbesar nomor tiga di Asia Tenggara, menjadi magnet bagi pekerja migran dari Indonesia, Bangladesh, Myanmar, Vietnam dan Nepal yang umumnya bekerja di sektor non formal seperti konstruksi bangunan, pabrik dan perkebunan.

Berita terkait