Pertemuan dengan oposisi Suriah di London

London
Image caption Pertemuan di London juga menegaskan kembali perlunya transisi politik di Suriah.

Para pemimpin negara Barat dan Arab bertemu dengan pemimpin oposisi Suriah untuk membujuk mereka berpartisipasi dalam perundingan damai Jenewa.

Pertemuan yang berlangsung di London pada Selasa 22 Oktober ini dikutio leh 11 menteri luar negeri dari kelompok yang disebut Sahabat Suriah dan kelompok oposisi utama Suriah.

Selama ini beberapa kelompok oposisi utama, termasuk Dewan Nasional Suriah, NSC, menolak untuk bergabung dengan perundingan damai yang direncanakan di Jenewa bulan depan.

Posisi NSC adalah tidak bersedia melakukan pembicaraan dengan perwakilan pemerintah pimpinan Presiden Bashar al-Assad.

Namun kelompok Sahabat Suriah menegaskan bahwa oposisi perlu bersatu agar perundingan yang disebut dengan Jenewa II tersebut bisa membuahkan hasil.

Sementara itu Presiden al-Assad dalam wawancara dengan stasiun TV Libanon, al-Mayadeen, kembali mempertanyakan legitimasi kelompok oposisi dengan menanyakan bukti-bukti bahwa mereka mewakili kelompok rakyat Suriah tertentu.

Transisi politik

Pertemuan di London diharapkan juga akan menegaskan kembali pandangan dari masing-masing anggota Sahabat Suriah bahwa Jenewa II harus dipusatkan pada transisi politik di Suriah dari rezim Assad.

Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, saat tiba di tempat perundingan di Lancaster House antara mengingatkan bahwa semakin panjang konflik Suriah berlangsung maka akan semakin bersifat sektarian.

Dua juga kembali menegaskan dukungan kepada kelompok oposisi.

"Kami ingin oposisi moderat di Suriah mengetahui bahwa kami berada di belakang mereka di Jenewa dan kami akan tetap membantu mereka dalam banyak cara dan membujuk mereka bahwa itulah satu-satunya jalan ke luar untuk menyelesaikan konflik berdarah yang tragis di Suriah, harus ada proses politik," jelasnya kepada para wartawan.

Sebelumnya Menteri Luar negeri Amerika Serikat, John Kerry, menegaskan bahwa oposisi Suriah tidak akan pernah setuju jika Presiden Assad tetap berkuasa.

"Dia sudah membom dan menyerang dengan gas rakyat di negaranya. Bagaimana pria itu memimpin dengan sah di masa depan?"

Berita terkait