Inggris hukum seumur hidup mahasiswa rasis Ukraina

Pavlo Lapshyn
Image caption Rekaman kamera memperlihatkan Pavlo Lapshyn di dalam bus membawa bom di Walsall.

Seorang mahasis Ukraina diganjar hukuman sedikitnya 40 tahun penjara di Inggris karena membunuh seorang pria dan merencanakan serangan di masjid.

Pavlo Lapshyn menikam sampai mati Mohammed Saleem yang berusia 82 tahun di Birmingham pada tanggal 29 April, lima hari setelah ia tiba di Inggris.

Dalam sidang Senin (21/10) dia mengaku pembunuhan itu dan juga merencanakan serangan bom di masjid di kota Walsall, Tipton, dan Wolverhampton pada Juni dan Juli.

Lapshyn datang ke Inggris dengan izin kerja sementara dan menikam Saleem setelah bersembahyang di masjid dekat rumahnya di Birmingham.

Dia kemudian ditangkap sekitar seminggu setelah ledakan ketiga di dekat masjid di Tipton, di utara Birmingham, dan mulai disidang pada bulan Juli.

Rekaman kamera pengawas antara lain memperlihatkan dia sedang berada di dalam bus membawa bom yang akan digunakan untuk masjid di Walsall.

Ekstrimis sayap kanan

Bahan peledak ketiga di dekat masjid Kanzul Iman itu diisi dengan paku dan polisi mengatakan Lapshyn meledakkan pada waktu yang tidak tepat saat sembahyang Jumat sehingga tidak menyebabkan korban besar.

Hakim saat membacakan hukuman, Jumat 25 Oktober, menyebut pria berusia 25 tahun itu sebagai ekstrimis sayap kanan.

"Anda jelas memiliki pandangan ekstrimis sayap kanan dengan supremasi putih dan termotivasi untuk melakukan serangan karena kebencian agama dan rasis dengan harapan Anda bisa memicu konflik rasial dan membuat umat Islam meninggalkan wilayah tempat tinggalmu," tutur Hakim Sweeney.

"Pandangan seperti itu, kebencian dan motivasi itu tidak mendapat tempat sama sekali di masyarakat kami yang multikultural dan multikeyakinan."

Saat diperiksa polisi, Lapshyn mengatakan dia membunuh Saleem -kakek dari 22 cucu- karena dia membenci warga nonputih.

Berita terkait