Sotloff 'beri hidupnya demi informasi'

sotloff Hak atas foto Getty
Image caption Sotloff antara lain berkontribusi untuk majalah Time dan Foreign Policy

Wartawan Amerika Serikat Stephen Sotloff yang dieksekusi oleh kelompok milisi Daulah Islamiyah atau ISIS di Irak disebut sebagai jurnalis profesional yang mengorbankan nyawanya demi mendapatkan informasi untuk publik.

Militan DI merilis video yang menunjukkan pemenggalan Sotloff dan mengklaim tindakan itu adalah balasan atas kebijakan Presiden AS Barack Obama yang menggempur kantong-kantong pemberontak di Irak.

Sotloff adalah sandera berkebangsaan AS kedua yang dibunuh oleh kelompok itu. Sebelumnya, DI telah membunuh James Foley.

Seorang teman Sotloff, pembuat film AS Matthew Van Dyke, mengatakan kepada BBC, "Ia adalah seorang yang sangat profesional dan tidak ada alasan hal ini harus terjadi kepadanya."

Sotloff diculik di dekat Aleppo di Suriah utara pada Agustus 2013.

Ia telah bekerja untuk majalah Time, Foreign Policy dan Christian Science Monitor dari Mesir, Libia dan Suriah.

Editor Time Nancy Gibbs mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia "sangat terpukul dan sedih dengan laporan tentang kematian Steven Sotloff."

"Ia memberikan hidupnya sehingga para pembaca akan memiliki akses informasi terhadap sejumlah tempat-tempat paling berbahaya di dunia," kata dia.

Analisis: Koresponden keamanan BBC Frank Gardner

Video eksekusi kedua ini signifikan, meskipun hal ini sudah diperkirakan dan sangat disesali.

Hal ini menunjukkan bahwa serangan udara AS yang menghentikan ruang gerak Daulah Islamiyah di Irak Utara telah mengakibatkan kerugian besar terhadap organisasi itu, dan merusak rencana mereka memperluas perebutan wilayah Kurdistan.

Lantaran tidak mampu menyerang balik jet-jet Amerika, DI merespons dengan bentuk informasi yang mereka tahu akan membuat takut banyak orang di Barat.

Hak atas foto Reuters
Image caption Obama mengirim pasukan tambahan untuk mengamankan misi diplomatik

Obama telah memerintahkan pengiriman 350 orang tentara tambahan ke Baghdad untuk melindungi Kedutaan Besar AS di ibu kota Irak tersebut.

Ia juga akan mengirim para pejabat tinggi ke Timur Tengah untuk "membangun kemitraan regional yang lebih kuat" guna menentang kelompok Daulah Islamiyah, kata Gedung Putih pada Selasa (03/09) seperti dilaporkan kantor berita Associated Press.

Sekretaris Pers Pentagon, Laksamana John Kirby, menambahkan bahwa langkah itu akan membuat jumlah total personel militer AS yang bertanggung jawab terhadap keamanan diplomatik di Irak menjadi 820 orang.

Pengumuman Gedung Putih ini datang pada hari yang sama ketika kelompok Daulah Islamiyah merilis video eksekusi Steven Sotloff dan meningkatkan tekanan dalam konfrontasi DI dengan Washington terkait serangan udara AS terhadap pemberontak di Irak.

Berita terkait