Wartawan Al-Jazeera cemaskan dua sejawatnya di Mesir

Hak atas foto AP
Image caption Fahmy, Mohamed dan Greste: "jika saya pantas dibebaskan, mereka juga pantas dibebaskan."

Wartawan al-Jazeera Peter Greste mengatakan bahwa ia lega telah dibebaskan namun masih merasa “sangat gelisah” karena telah meninggalkan dua sejawatnya di penjara di Mesir.

Greste dibebaskan dari penjara dan dideportasi pada hari Minggu setelah ditahan selama 400 hari. Ia sekarang berada di Cyprus dalam perjalanan ke Australia.

Peter Greste, Mohamed Fahmy dan Baher Mohamed ditahan pada tahun 2013 atas tuduhan menyebarkan berita palsu dan membantu kelompok Ikhwanul Muslimin.

Fahmy dan Mohamed masih berada dalam tahanan.

Dalam sebuah wawancara dengan al-Jazeera, Mr Greste menggambarkan pembebasannya sebagai “sebuah langkah maju luar biasa” bagi pemerintahan Mesir.

“Saya hanya berharap Mesir melanjutkan langkah maju itu,” tambah wartawan Australia tersebut.

Sementara itu, Mohamed Fahmy, yang memiliki kewarganegaraan Mesir dan Kanada, dapat dibebaskan bila ia melepaskan kewarganegaraan Mesirnya, kata sumber kepresidenan.

Menteri Luar Negeri Kanada John Baird mengatakan pada hari Senin bahwa pembebasan Fahmy akan terjadi “dalam waktu dekat”, namun tidak menjelaskan lebih lanjut.

Masih terdapat kekhawatiran mengenai Baher Mohamed, warga Mesir yang tidak memiliki kewarganegaraan ganda.

Emosi campur aduk

Berbicara pada hari Senin, Greste mengatakan ia "tidak menyangka" pembebasannya akan dilakukan pada hari Minggu dan dilepas melalui apa yang terasa seperti "pemberitahuan hanya beberapa menit sebelumnya."

Hak atas foto AFP
Image caption "Langkah maju yang luar biasa bagi pemerintah Mesir"

Ia menggambarkan munculnya suatu "emosi campur aduk" setelah mengetahui akan dibebaskan, dan merasakan "lega dan gembira luar biasa, namun juga stres karena harus mengucapkan selamat tinggal kepada kolega dan rekan-rekan saya – orang-orang yang telahah menjadi keluarga saya dalam penjara itu. "

"Berjalan keluar dari penjara tersebut merupakan momen yang sulit. Mengucapkan selamat tinggal kepada yang lainnya, tanpa mengetahui berapa lama lagi mereka harus menjalani ini."

Ia menyatakan kekhawatirannya tentang Fahmy dan Mohamed, serta wartawan lainnya yang dihukum in absentia.

"Bila saya pantas untuk bebas, maka pantas juga bagi yang lainnya untuk bebas,” katanya.

Greste, Fahmy dan Mohamed, wartawan untuk al-Jazeera English, ditangkap pada tahun 2013 setelah dituduh bekerja sama dengan kelompok Ikhwanul Muslimin setelah penggulingan mantan Presiden Mohammed Morsi oleh militer.

Ketiganya membantah tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa proses pengadilannya itu tidak sah.

Pada bulan Juni tahun lalu, Fahmy dan Greste dihukum tujuh tahun penjara serta 10 tahun penjara untuk Mohamed. Vonis tersebut memancing protes internasional.

Hak atas foto Reuters
Image caption Fahmy, Mohamed dan Greste menyimak persidangan dari balik jeruji

Hukuman mereka dibatalkan pada tanggal 1 Januar namun mereka tetap ditahan sembari menunggu pengadilan ulang.

Beberapa mahasiswa juga ditahan dalam kasus yang sama. Mereka membantah bekerja untuk al-Jazeera namun diduga video yang direkam melalui ponsel mereka digunakan oleh saluran tersebut.

Dalam kasus yang berbeda, Abdullah El-Shamy, wartawan untuk saluran al-Jazeera berbahasa Arab, ditahan pada bulan Agustus 2013 ketika polisi membubarkan sebuah protes oleh pendukung Mr Morsi.

Ia dibebaskan dengan alasan kesehatan pada bulan Juni 2014 setelah melakukan aksi mogok makan selama hampir lima bulan.

Menurut kelompok aktivis Wartawan Lintas Batas (Reporters Sans Frontier), saat ini terdapat 165 wartawan dalam tahanan penjara di seluruh dunia, termasuk 15 di Mesir.

Berita terkait