#TrenSosial: Imbas eksekusi tak akan ancam warga Indonesia di Australia

Hak atas foto Reuters
Image caption Dua terpidana mati asal Australia telah tiba di Penjara Nusakambangan untuk dieksekusi setelah dipindahkan dari Kerobokan, Bali.

Rencana eksekusi dua terpidana narkoba Australia tidak akan berimbas pada serangan fisik atau ancaman kepada orang-orang Indonesia di negara itu, menurut seorang akademisi Universitas Sydney.

Menjelang rencana eksekusi Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney dilempar sejumlah balon berisi cairan merah sementara sejumlah komentar di sosial media kembali mengangkat upaya boikot Bali.

Kedua terpidana mati Australia itu saat ini telah dipindahkan ke Nusa Kambangan Rabu (04/03).

"Ini saya kira reaksi dari minoritas penduduk Australia (yang melempar botol cairan merah ke KJRI)," kata Vannessa Hearman, dosen Departemen Studi Indonesia di Universitas Sydney kepada BBC Indonesia.

"Sebagian besar penduduk Australia merasa sedih, mengapa kedua orang itu diangkut ke Nusa Kambangan saat ini juga. Tetapi imbasnya saya rasa tidak akan menuju pada serangan fisik atau ancaman terhadap orang Indonesia."

Banyak yang mendukung

Andhika Irfandianto warga Indonesia yang sudah 13 tahun tinggal di Australia mengatakan ketegangan dua negara jelang hukuman mati ini tidak berpengaruh terhadap relasinya dengan warga di sana.

"Ada beberapa teman yang tanya soal itu, tetapi saya cuma jawab itu peraturan di Indonesia. Kenapa tidak bisa diubah? Ya kalau pemerintahnya tidak mau mengubah ya kita tidak bisa melakukan apa-apa."

Sementara itu, Annisa Indri Lestari, warga Indonesia yang tinggal di Melbourne sejak 2013 lalu mengatakan agak sedikit khawatir, tetapi tetap yakin tidak ada ancaman.

"Agak sedikit khawatir, yang agak takut itu kalau tiba-tiba di jalan atau transportasi umum ada yang anarki atau menghujat. Tetapi sampai saat ini saya belum pernah mengalami."

"Tetapi dari berbagai obrolan, saya malah melihat bahwa banyak orang yang setuju eksekusi mati, juga dari warga Australia sendiri banyak yang setuju, kan mereka (Sukumaran dan Chan) bukan warga negara Australia tetapi pendatang yang mendapat izin tinggal tetap."

Tanda pagar #Bali9 sempat menjadi salah satu topik terpopuler di Australia ketika berita tentang pemindahan Sukumaran dan Chan ke Nusakambangan beredar di media sosial.

Pengguna Twitter Sarah Joseph melalui ‏@profsarahj mengatakan, 'Sangat kejam dan sia-sia untuk membuat Chan, Sukumaran, dan keluarga mereka mengalami apa yang terjadi saat ini. #Bali9'

'Saya merasa sangat terganggu dengan rencana eksekusi Chan & Sukumaran, saya berpikir mungkin tidak akan lagi ke Indonesia. #Bali9,' kata Airlie Walsh dari @AirlieWalsh.

Berita terkait