Rohingya: Kapan kami diberangkatkan?

Pengungsi Hak atas foto BBC World Service
Image caption Pengungsi Rohingya dari Myanmar berharap ditampung di negara-negara seperti Australia dan Amerika Serikat.

Setelah puluhan tahun menyelamatkan diri dari Myanmar akibat kekerasan dan penindasan, warga Rohingya menuntut kejelasan kapan mereka akan ditempatkan di negara ketiga.

Hal tersebut disampaikan oleh -pengungsi pengungsi Rohingya yang ditempatkan di penampungan di bawah pengawasan Kantor Imigrasi Sumatra Utara. Dengan mengantongi kartu UNHCR (Lembaga Pengungsi PBB), hidup mereka ditunjang oleh IOM (Lembaga Migrasi Internasonal), dan bukan oleh pemerintah Indonesia.

“Kita mohon kepada dunia dan PBB dan pemerintah Indonesia, tolong bantu beri negara ketiga seperti yang diberikan (difasilitasi oleh) UNHCR,” kata Mohammad Khan.

Pria asal kota Maungdaw, negara bagian Rakhine yang dulu disebut Arakan itu sudah mengungsi selama 20 tahun di Malaysia dan kemudian di Indonesia.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Mohammad Khan berniat membawa serta istrinya, orang Indonesia, bila ditempatkan di negara lain.

Ia bertambah risau ketika tahu ada sesama pengungsi dari negara lain di penampungan yang sama dipanggil untuk proses pemberangkatan.

Bahkan seorang pengungsi Rohingya lain, Mohammad Habib, menyodorkan pertanyaan kepada BBC mengapa suku Rohingya tidak kunjung diberangkatkan.

“Orang lain-lain semuanya sudah mendapatkan negara ketiga, bangsa kami tidak satu pun mendapat negara ketiga. Itu kami hatinya sedih.

“Itu kenapa bangsa kami tidak dapat negara ketiga? Kalau kakak tahu, bilanglah sedikit. Hati kami akan senang sedikit,” pinta seorang ayah ini.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Polonia, Sumatra Utara, Tani Rumapea membenarkan sejak tahun 2010 tidak ada satu pun pengungsi Rohingya di wilayahnya yang mendapat tempat di negara ketiga. Pengiriman terakhir melibatkan 15 orang untuk ditempatkan di Australia.

Kuota berkurang

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Krisis kemanusiaan di Suriah dan kawasan, kata Towle, menyedot segala sumber daya.

UNHCR menegaskan tidak ada pemilihan atas landasan latar belakang bangsa dalam memfasilitasi penempatan di negara ketiga.

“Kami berusaha memastikan bahwa orang-orang yang paling memerlukan bantuan kami, mendapatkan bantuan itu, yaitu anak-anak yang bepergian sendiri tanpa didampingi orang dewasa dan orang-orang dari kelompok pengungsi yang sangat rentan,” kata Wakil UNHCR, Richard Towle dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di Kuala Lumpur.

Dikatakan kelompok pengungsi yang sangat rentan antara lain meliputi mereka yang terancam jiwanya karena alasan keamanan.

Towle juga menambahkan kuota tersedia bagi penempatan di negara-negara penerima sekarang sudah turun.

“Karena krisis kemanusiaan yang luar biasa besar di Suriah dan kawasan, maka sebagian besar usaha diarahkan ke sana,” jelas Towle.

Hingga akhir November 2014, terdapat 40.070 pengungsi Rohingya yang terdaftar di UNHCR di Malaysia. Adapun di Indonesia terdapat 738 pengungsi Rohingya dari Myanmar hingga akhir Februari 2015.

Berita terkait