Perjuangan pengakuan identitas Rohingya 'terhambat' pemimpin

Kawasan di Kuala Lumpur Hak atas foto BBC World Service
Image caption Sebuah jalan di dekat Central Market, Kuala Lumpur ini ramai dengan orang dari Myanmar, Nepal dan Bangladesh.

Di antara sekitar 3,5 juta orang Rohingya, siapakah sejatinya pemimpin mereka?

Seorang dosen terbang Myanmar dari etnik Rohingya di salah satu perguruan tinggi di Malaysia mengungkapkan otokritik tentang absennya pemimpin karismatik dalam memperjuangkan pengakuan bahwa mereka adalah warga negara Myanmar.

“Masalahnya kita punya banyak orang yang ingin menjadi pemimpin tanpa kualifikasi memadai,” kata dosen terbang senior yang tidak ingin namanya disebutkan dengan alasan keselamatan.

“Pertama, mereka harus kokoh dari sisi moral. Kedua, mereka juga harus kuat secara fisik. Masalahnya beberapa orang sudah berusia 70-80 tahun dan ingin menjadi pemimpin.”

Konvensi

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Ghiyathudeen Maulana Abdul Salam memandang perlu konvensi Rohingya untuk menetapkan pemimpin.

Rohingya dinaungi berbagai organisasi di dunia, lanjut dosen studi internasional itu, tapi pemimpin-pemimpin yang ada tidak saling mempercayai satu sama lain dan cenderung mengusung agenda masing-masing.

Sekjen Gabungan Persatuan Rohingya Sedunia (UWRO) Ghiyathudeen Maulana Abdul Salam mengaitkan absennya pemimpin yang tangguh dan mampu mempersatukan dengan kenyataan bahwa selama ini belum pernah ada konvensi bangsa Rohingya yang diwakili berbagai organisasi itu.

“Sekarang apa yang kita tidak ada ini ialah kepemimpinan kebangsaan tanpa proses sidang kebangsaan,” katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir di Kuala Lumpur.

UWRO yang ia pimpin mewadahi setidaknya 32 organisasi Rohingya sedunia.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Sekitar 2,5 juta pengungsi Rohingya tersebar di berbagai negara, antara lain Indonesia dan Malaysia.

Di antara pemimpin-pemimpin Rohingya yang mengungsi atau sudah menetap di negara-negara lain, sebagian besar masih mengalami kesulitan untuk bertahan. Hal itu dipandang turut menghambat munculnya tokoh panutan.

“Masalahnya kita tidak mempunyai tokoh karismatik sebab di antara pemimpin sama-sama orang susah sehingga banyak menimbulkan banyak masalah. Kurang percaya di antara satu sama lain,” demikian dikatakan oleh Abdul Ghani, wakil ketua Masyarakat Rohingya di Malaysia (RSM).

Ia meyakini permusuhan di Myanmar yang diarahkan kepada etnik Rohingya bukan konflik agama pada dasarnya.

“Ini suatu kekejaman politik.”

Di samping Abdul Ghani dan Ghiyathudeen Maulana Abdul Salam, terdapat pula sederetan nama lain yang sering mewakili suara Rohingya di forum-forum internasional.

Mereka antara lain Abdul Razak atau dikenal dengan nama lain Shwe Maung, seorang anggota parlemen Myanmar, Mohammad Sadek dari Komite Pengungsi Rohingya Arakan dan Nurul Islam yang tinggal di Eropa.

Laporan khusus BBC Indonesia tentang nasib Rohingya ada di tautan ini: http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/laporan_rohingya.

Berita terkait