Krisis pengungsi dibahas Menlu RI, Malaysia, dan Thailand

Pengungsi Hak atas foto Getty
Image caption Pengungsi yang mengaku dari Myanmar ditampung di Kuala Langsa, Aceh.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Aman, dan Menteri Luar Negeri Thailand Jenderal Tanasak Patimapragorn berkumpul di Putrajaya, Rabu (20/05), guna membahas krisis migran di kawasan Asia Tenggara.

Dari ribuan pengungsi yang terkatung-katung di sekitar Selat Malaka, banyak di antara mereka adalah warga Rohingya yang melarikan diri dari penyiksaan dan diskriminasi di Myanmar. Ada pula migran Bangladesh yang melarikan diri dari kemiskinan.

Sebelumnya, kepada media, Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Aman mengatakan ketiga menlu akan membicarakan usulan kolektif untuk kemudian diajukan ke Myanmar.

“Sebagai ketua ASEAN (Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara), kami akan membahas ini secara mendalam sehingga masalah dapat diselesaikan.”

Adapun Menlu Indonesia Retno Marsudi mengatakan persoalan ini bukan hanya menjadi persoalan satu atau dua negara.

“Ini juga terjadi di tempat-tempat lain. Ini sebenarnya isu internasional.”

'Tuding negara-negara lain'

Sejauh ini Myanmar menolak disalahkan atas persoalan pengungsi Rohingya yang tidak diakui sebagai warga negaranya dan lantas melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Bahkan pemerintah negara itu menuding negara-negara tetangga sengaja menolak kaum Rohingya.

“Menyedihkan orang-orang tersebut didorong ke laut oleh beberapa negara,” demikian dikatakan oleh direktur kantor kepresidenan Myanmar, Zaw Htay.

Pertemuan tripartit di Putrajaya, Malaysia, diharapkan dapat membuka jalan bagi pelibatan Myanmar menyusul kedatangan lebih dari 1.000 orang di Aceh baru-baru ini.

Pada waktu yang hampir bersamaan, tercatat 1.107 orang mendarat di Pulau Langkawi, Malaysia, dan kini mereka ditempatkan di Pusat Detensi Imigrasi Belantik, Negara Bagian Kedah.

Image caption Sebagian pengungsi adalah perempuan dan anak-anak.

Selain yang telah diselamatkan, ribuan orang diperkirakan terombang-ambing di antara Laut Andaman dan Selat Malaka setelah kapal-kapal mereka ditinggalkan begitu saja oleh para penyelundup.

Sedangkan Thailand, Malaysia dan Indonesia menolak mereka mendarat di wilayah masing-masing karena berbagai alasan.

Disebutkan mereka adalah pendatang gelap dan tujuan akhir mereka bukan Malaysia, Indonesia atau Thailand sehingga kapal mereka diberi bekal dan dipersilakan melanjutkan perjalanan.

Muncul pula kekhawatiran apabila pintu dibuka, maka arus pengungsi dan pendatang tak akan bisa dibendung sebagaimana krisis manusia perahu yang terjadi pada 1970-an ketika warga Vietnam melarikan diri setelah Perang Vietnam.

Berita terkait