Kapal dengan ratusan pengungsi terbalik lepas pantai Libya

Hak atas foto AFP
Image caption Menurut pejabat, sekitar 201 orang sudah diselamatkan oleh penjaga pantai Libya tapi banyak orang yang terperangkap saat kapal terbalik.

Ratusan orang dikuatirkan tewas setelah dua kapal yang mengangkut hampir 500 orang migran terbalik di lepas pantai kota Zuwara, Libya, lapor penduduk dan pejabat setempat.

Kapal pertama, yang menyampaikan sinyal minta pertolongan pada Kamis (27/8), mengangkut hampir 50 orang.

Kapal kedua yang terlalu penuh, dan tenggelam beberapa lama setelahnya, mengangkut sekitar 400 orang.

Menurut pejabat, sekitar 201 orang sudah diselamatkan oleh penjaga pantai Libya tapi banyak orang yang terperangkap saat kapal terbalik.

Tempat penahanan pengungsi ilegal di Sabratha, barat Tripoli menerima 147 orang, menurut pejabat pada Reuters.

Setidaknya 100 jenazah dibawa ke rumah sakit di Zuwara, barat Tripoli, menurut seorang warga pada BBC.

Para korban adalah pengungsi dari Suriah, Bangladesh, dan beberapa negara Afrika sub-Sahara, katanya lagi, namun informasi tersebut belum bisa diverifikasi ulang.

Sepanjang tahun ini, menurut PBB, sekitar 2400 pengungsi tewas dalam upaya menyeberangi Mediterranea menuju Eropa.

Hak atas foto AFP
Image caption Kapal Swedia, Poseidon, mengangkut jenazah pengungsi dan penyintas ke Sisilia

Lebih dari 100 ribu orang sudah mendarat di Italia dan 160 ribu orang lainnya sudah menyeberang ke Yunani.

Pada Rabu lalu, 51 jenazah ditemukan dalam bagian bawah kapal yang terguling di pantai Libya.

Mereka ditemukan oleh kapal penjaga pantai Swedia yang menyelamatkan lebih dari 400 penyintas yang termasuk dalam 3000 pengungsi yang diselamatkan hari itu.

Kapal Swedia itu, Poseidon, berlabuh di Palermo, Sisilia, pada Kamis.

Pada Sabtu (22/8), sekitar 4400 pengungsi diselamatkan dari kapal di lepas pantai Libya, dalam salah satu operasi harian terbesar yang pernah dilakukan.

Banyak dari mereka yang melakukan perjalanan ini melarikan diri dari konflik atau tekanan, dan berangkat dari Libya menggunakan kapal-kapal milik para penyelundup manusia, yang sebetulnya tak layak untuk perjalanan laut.

Dalam setahun terakhir, Libya memiliki dua pemerintahan yang saling bersaing dan sebagian besar wilayahnya dikuasai oleh kelompok-kelompok milisi.

Kemampuan penjaga pantai Libya sangat terbatas dalammelakukan penyelamatan skala besar di laut, lapor koresponden BBC Afrika Utara Rana Jawad dari Tunis.

Sementara di Austria, polisi mengatakan mereka berharap untuk bisa menetapkan jumlah orang yang tewas dalam lori yang diparkir dekat perbatasan. Menurut mereka, angkanya bisa sampai 50 orang, sebagian besar kemungkinan adalah pengungsi.

Masalah arus migran menuju Eropa melalui jalur darat diangkat dalam konferensi tingkat tinggi di Wina pada Kamis.

Menteri Luar Negeri Austria Sebastian Kurz menyoroti perlunya menangani pengungsi dalam jumlah besar yang masuk ke Uni Eropa lewat negara-negara Balkan Barat.

Berita terkait