Perdagangan bebas Trans-Pasifik tidak libatkan Cina

Hak atas foto EPA
Image caption Kemitraan Trans-Pasifik melibatkan 12 negara, termasuk Jepang dan Amerika Serikat.

Perjanjian perdagangan bebas Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) antara 12 negara, termasuk Jepang dan Amerika Serikat, tidak melibatkan Cina.

Namun, Presiden AS Barack Obama berharap dapat memaksa Cina untuk menerima aturan yang diterapkan TPP.

“Ketika lebih dari 95% konsumen potensial kami tinggal di luar perbatasan kami, kami tidak bisa membiarkan negara-negara seperti Cina menyusun aturan ekonomi global. Kamilah yang harus menyusun aturan-aturan itu, membuka pasar baru untuk produk Amerika dan menerapkan standar tinggi untuk melindungi pekerja dan melestarikan lingkungan kami,” papar Obama.

Melalui perundingan selama lima hari di Atlanta, AS, kemitraan yang melibatkan AS, Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Cile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam itu mencakup penghapusan belasan ribu pajak.

“Kemitraan ini menyetarakan ranah perdagangan bagi para petani, peternak, dan produsen dengan menghapus lebih dari 18.000 pajak yang diterapkan berbagai negara pada produk-produk kami,” kata Obama.

Meski telah disepakati para kepala negara, perjanjian itu harus diratifikasi semua parlemen negara bersangkutan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pasar di 12 negara anggota TPP akan lebih terbuka bagi produk sesama anggota TPP.

Kesepakatan tersebut tidak ditanggapi gembira semua pihak. Bernie Sanders, senator AS yang juga merupakan kandidat presiden dari Partai Demokrat, mengatakan kesepakatan itu hanya menguntungkan perusahaan-perusahaan besar.

“Wall Street dan perusahaan-perusahaan besar menang lagi,” ujarnya.

Menurut Sanders, kesepakatan yang disetujui Obama akan menyebabkan sejumlah lapangan pekerjaan di AS lenyap sehingga dia akan ‘melakukan semua yang dia bisa unmtuk mengalahkan perjanjian itu’ di Kongres AS.

Ranah industri

Kesepakatan TPP berimbas pada sejumlah ranah industri, termasuk farmasi, otomotif, dan pertanian.

Pada sektor farmasi, AS berkeras agar perusahaan-perusahaan farmasi diberikan waktu selama 12 tahun untuk memonopoli produksi obat-obatan mereka. Dengan jangka waktu tersebut, AS menilai perusahaan-perusahaan itu memastikan aliran dana yang cukup untuk berinvestasi pada riset baru.

Hak atas foto AFP
Image caption TPP melibatkan AS, Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Cile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam

Namun, Australia dan Selandia Baru berpendapat lima tahun adalah waktu yang cukup bagi perusahaan farmasi memonopoli. Setelah itu, obat-obatan generik harus diberi keleluasaan beredar di pasar.

Ranah lainnya ialah sektor otomotif. Sejumlah negara anggota TPP berunding mengenai berapa jumlah kendaraan yang harus diproduksi di dalam zona TPP untuk bisa mendapat status bebas pajak.

Sektor pertanian juga menjadi bahan diskusi yang alot. Selandia Baru, misalnya, ingin mendapat akses lebih banyak pada pasar pertanian di Kanada, Meksiko, Jepang, dan AS.

Namun, Kanada berjuang agar pasar produk susu dan unggas mereka tidak ditembus pesaing asing.

Berita terkait