"Warga Prancis akan melawan ketakutan pasca teror"

paris solidarity Hak atas foto AP
Image caption Jika aparat bisa mencegah serangan lain dalam beberapa bulan, Prancis akan kembali pada kehidupan normal.

Akan ada ketakutan di kalangan penduduk Prancis, namun akan ada banyak orang yang memaksa diri untuk hidup secara normal untuk menunjukkan mereka tidak menyerah di depan 'orang-orang gila' ini, kata seorang pakar Prancis.

Rémy Madinier, pakar Islam dan co-direktur Centre Asie du Sud-Est (CASE) di Prancis mengatakan kepada Ging Ginanjar dari BBC Indonesia, bagaimana pun pasti ada yang berubah setelah serangan ini.

"Orang akan lebih berhati-hati, dan banyak yang akan tidak suka pergi ke tempat umum jika tak ada langkah keamanan yang nyata di pintu masuk, katanya."

Tetap menikmati hidup

"Namun orang tahu bahwa teroris akan menang, kalau ada psikosis -wabah ketakutan- yang besar di Prancis. Dan orang Prancis mengerti bahwa tujuan teror adalah memisahkan mereka dari hidup normal seperti aktivitas kebudayaan, pergi ke bioskop, keluar malam."

Karenanya, kata pakar yang sering bolak-balik ke Indonesia ini, akan banyak orang Prancis yang justru menunjukkan bahwa mereka tidak takut. Bahwa teroris itu gagal, dengan tetap pergi ke konser, ke acara budaya, ke bar, ke bioskop, ke stadion-stadion.

Hak atas foto AFP
Image caption Ribuan militer Prancis dikerahkan membantu olisi dalam menjamin keamanan setelah serangan Jumat.

Menurut Remy, ini akan merupakan masa-masa yang sulit bagi waga Prancis, yang belum lama pulih dari luka atas serangan terhadap kantor redaksi majalah Charlie Hebdo di Paris.

"Bulan Januari lalu, jutaan orang turun ke jalan di Paris dalam demonstrasi "Je Suis Charlie" untuk menunjukkan bahwa kami tidak takut. Bahwa kami akan terus hidup secara normal. Kami tak akan berhenti menikmati kehidupan, aktivitas kebudayaan, kegiatan intelektual, kritik terhadap garis politik atau garis agama yang berbahaya bagi negara. Dan orang-orang yang berdemonstrasi di jalan-jalan saat itu pasti sudah tahu akan ada serangan lain."

Prancis di garis depan

Remy Madinier adalah warga Lyon yang bekerja di paris. Ia pernah tinggal lama di Indonesia dn melakukan berbagai penelitian. Salah satu bukunya, "Islam dan Politik di Indonesia," serta "Islam Indonesia dan Godaan Radikalisme."

Menurut Remy orang Prancis sudah mencemaskan akan terjadinya serangan besar, karena sudah ada sejumlah kejadian sebelumnya. Beberapa pekan lalu ada upaya serangan di kereta Thalys jurusan Amsterdam-Paris, yang digagalkan tentara AS. Dan bulan-bulan sebelumnya ada beberapa jaringan teroris yang dibongkar aparat keamanan.

Orang Prancis tahu mereka di garis depan melawan teroris karena kami paling terlibat dalam memerangi ISIS di Suriah, juga jaringan lain di Afrika Utara, di Mali, Pantai Gading dll."

Hak atas foto Reuters
Image caption Orang-orang terus berdatangan ke lokasi-lokasi serangan, menunjukkan solidariats bagi korban.

"Sekarang pun, warga Prancis akan waspada. Pasti akan ada serangan yang lain. Jika itu dalam beberapa hari atau minggu, kemungkinan besar kita di Prancis akan mengalami psikosis. Jika tak ada serangan dalam beberapa bulan seperti sesudah Charlie Hebdo kehidupan akan normal lagi, tentu dengan kehadiran tentara dan polisi lebih nyata."

Yang dicemaskan Remy Madinier adalah situasi ini dimanfaatkan oleh kalangan "kanan dan ekstrim kanan," untuk mengobarkan ketakutan pada imigran dan kebencian terhadap islam -Islamofobia.

"Pasti ada masalah dengan Islam radikal, Islam jihadis. Pasti kami perlu meningkatkan keamanan. Tetapi Prancis tak ada masalah dengan Islam sebagi sebuah agama biasa seperti yang lainnya," tandas Remy Madinier pula.

Berita terkait