Para pengusaha Muslim kaya 'bantu' Trump bangun kerajaan bisnis

Akbar Al Baker Hak atas foto Getty
Image caption Donald Trump berbicara dengan CEO Qatar Airways, Akbar Al Baker, saat peluncuran penerbangan Qatar Airways ke New York, Juni 2007.

Sejumlah penerbitan menurunkan laporan tentang hubungan dekat Donald Trump dan para pengusaha kaya Muslim, terutama dari Timur Tengah, setelah Trump mengusulkan pelarangan orang-orang Islam memasuki Amerika Serikat.

Trump, bakal calon presiden dari Partai Republik, memicu kecaman setelah memaparkan keinginan melarang orang-orang Islam memasuki Amerika karena Muslim ia anggap "mendorong kebencian terhadap Amerika".

Trump mengatakan sampai wakil-wakil pemerintah "memahami fenomena sosial" ini maka orang-orang Islam harus dilarang masuk ke Amerika.

Tak lama setelah Trump secara terbuka mengemukakan desakan ini, sejumlah situs penerbitan memaparkan bagaimana para pengusaha Muslim "membantu Trump membangun kerajaan bisnisnya".

Situs The Daily Beast memasang judul Trump hanya suka dengan orang-orang Islam yang memberinya uang dengan isi artikel yang membeberkan kesepakatan-kesepakatan bisnis Trump dengan sejumlah pengusaha dari negara-negara Teluk untuk membangun perumahan, apartemen, dan lapangan golf.

Kaji ulang hubungan

Beberapa properti ini menggunakan nama Trump sebagai merek.

Situs berita bisnis Quartz memilih judul Orang-orang Islam kaya membantu Donald Trump membangun kerajaan bisnis.

Selain menyinggung bisnis Trump di Timur Tengah, Quartz juga memberitakan bahwa Qatar Airways adalah salah satu penyewa gedung perkantoran Tower Trump di Manhattan, New York, sejak 2008.

Hak atas foto Getty
Image caption Donald Trump mengatakan orang-orang Islam 'mendorong kebencian terhadap Amerika'.

Tidak diketahui biaya sewa yang harus dibayar Qatar Airways, tapi tarif sewa di sini mulai dari US$19.000 hingga lebih dari US$100.000 per bulan.

Pernyataan Trump soal Islam ini dikecam berbagai kalangan, dari pejabat pemerintah, bakal calon presiden Demokrat Hillary Clinton, hingga organisasi pro-Yahudi di Amerika.

Sementara itu tajuk rencana ArabianBusiness.com mendesak para pengusaha Timur Tengah mengkaji ulang hubungan mereka dengan Trump.

Berita terkait