Dua warga Israel-AS dan Iran tewas dalam bom di Istanbul

Hak atas foto EPA
Image caption Ledakan terjadi di kawasan perbelanjaan yang ramai dengan turis asing dan warga lokal.

Sebuah bom bunuh diri yang meledak di kawasan perbelanjaan di Istanbul, Turki, menewaskan dua orang dwikewarganegaraan Israel-Amerika Serikat serta seorang warga Iran.

Ledakan itu terjadi di Jalan Istiklal, kawasan perbelanjaan yang ramai dengan turis asing dan warga lokal, pada Sabtu (19/03), pukul 11.00 waktu setempat.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebutkan terdapat tiga warga Israel meninggal dunia, yakni Simha Demri, (60 tahun), Yonathan Suher (40 tahun), dan Avraham Goldman (70 tahun). Dua di antara warga Israel yang meninggal dunia tersebut juga memegang paspor Amerika Serikat.

Adapun korban keempat ialah Ali Riza Khalman (31 tahun). Istri Ali, Azan, dan bayi mereka, Diana, dilaporkan mengalami cedera.

Korban cedera lainnya berasal dari berbagai negara, termasuk 11 warga Israel, dua warga Irlandia, satu asal Jerman, satu asal Islandia, dan satu orang asal Uni Emirat Arab.

Hak atas foto Reuters
Image caption Sebanyak tiga warga Israel dan seorang warga Iran meninggal dunia dalam ledakan tersebut.

Uwes Shehadeh, seorang saksi mata yang berdiri sekitar 500 meter dari lokasi ledakan. Dia mengaku mendengar “suara yang mengerikan”.

“Orang-orang tidak tahu apa terjadi. Sangat kacau situasinya saat itu. Semua orang menjerit dan melarikan diri,” katanya kepada BBC.

Menurut Shehadeh, kewaspadaan warga Kota Istanbul meningkat dan mereka sangat khawatir apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sejauh ini, baik kelompok ISIS maupun milisi Kurdi sama-sama mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Hak atas foto EPA
Image caption Korban cedera lainnya berasal dari berbagai negara, termasuk 11 warga Israel, dua warga Irlandia, satu asal Jerman, satu asal Islandia, dan satu orang asal Uni Emirat Arab.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kelompok-kelompok teror menargetkan warga sipil karena kelompok-kelompok tersebut semakin terdesak oleh pasukan Turki.

Turki merupakan bagian dari koalisi tempur pimpinan AS melawan ISIS dan Turki mengijinkan pangkalan udaranya di Incirlik digunakan pesawat-pesawat tempur koalisi sebagai basis untuk melakoni serangan ke sejumlah daerah di Irak dan Suriah.

Di sisi lain, Turki juga melakukan aksi militer sendiri terhadap milisi Kurdi di Suriah (YPG) yang dipandang sebagai perpanjangan tangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Serangan di Istanbul tersebut berjarak enam hari setelah ledakan serupa terjadi Ankara yang menewaskan sedikitnya 34 orang.

Berita terkait