Donald Trump ‘menganjurkan Rusia meretas email Hillary Clinton’

Donald Trump Hak atas foto Reuters
Image caption "Rusia, jika kalian mendengarkan, saya harap kalian dapat menemukan 30.000 email yang hilang," kata Trump.

Donald Trump telah “secara aktif menganjurkan” pemerintah asing untuk meretas saingannya dalam pemilihan presiden AS, Hillary Clinton, menurut kubu Clinton.

Hillary Clinton menolak menyerahkan 30.000 email sebagai bagian dari investigasi terhadap server email pribadinya karena berisi informasi pribadi.

“Rusia, jika kalian mendengarkan, saya harap kalian dapat menemukan 30.000 email yang hilang,” kata Trump, Rabu (27/07).

“Saya pikir kalian akan dihadiahi oleh media kami.”

Email tersebut akan berisi “hal-hal cantik”, kata Trump. Tak lama kemudian, ia menulis di Twitter bahwa siapapun yang memiliki email tersebut harus menyerahkannya ke Badan Investigasi Federal (FBI).

Anjuran tersebut disampaikan Trump di tengah tudingan bahwa Rusia meretas email dari Komite Nasional Demokrat (DNC) untuk menguntungkan Trump. Baik Rusia maupun Trump membantah tudingan itu.

“Ini pasti pertama kalinya calon presiden populer secara aktif menganjurkan pemerintah asing untuk memata-matai lawan politiknya,” kata Jack Sullivan, penasehat kebijakan Hillary Clinton.

“Ini bukan lagi persoalan keingintahuan, atau politik, melainkan keamanan nasional.”

Dalam pernyataan pers yang dirilis satu jam setelah komentar Donald Trump; calon wakil presiden Trump, Mike Pence mengatakan akan ada “konsekuensi serius” bila FBI dapat membuktikan bahwa Rusia berusaha mencampuri pemilu AS.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov pada Rabu (27/07) mengatakan, Presiden Vladimir Putin “telah menyatakan berkali-kali bahwa Rusia tak akan pernah mencampuri dan tidak mencampuri urusan internal negara lain, terutama dalam proses pemilu”.

Berita terkait