Apa Inggris semakin rasis setelah Brexit?

other Hak atas foto Other
Image caption Esmat Jeraj, 26 tahun, diteriaki keluar dari Inggris, negara kelahiran dan tempat dia dibesarkan.

Kejahatan kebencian melonjak setelah referendum Uni Eropa, menurut data polisi. Tetapi apakah peningkatan ketegangan ras ini akan terus berlanjut?

"Mengapa Anda tetapi disini?" tanya seorang pelanggan kepada Alma Milaseviciute, 31 tahun, asal Lithuania, ketika dia berdiri di toko keju tempat kerjanya di Ludlow, Shropshire.

"Keluar dari negara saya," teriak seorang pria kepada Esmat Jeraj, 26 tahun, setelah menyumpahinya.

Dia melihat Esmat memakai jilbab saat dalam perjalanan ke tempat kerja di Whitechapel, London timur. Jeraj lahir dan dibesarkan di Inggris.

Ini hanya beberapa dari sejumlah peristiwa yang terjadi setelah referendum keanggotaan Inggris di Uni Eropa.

Para korban mengatakan penyerangnya mewakili kelompok kecil di Inggris dan sebagian besar orang di Inggris akan takut terhadap tingkah laku seperti ini. Kampanye pegiat Prominent Leave juga mengutuk keras tingkah laku ini.

Tetapi terdapat bukti kuat lonjakan kejahatan kebencian sejak jajak 23 Juni. Terjadi kenaikan laporan sebesar 57% empat hari setelah referendum, kata polisi.

Terdapat lebih 6.000 laporan kejahatan kebencian kepada polisi antara pertengahan Juni dan pertengahan Juli, menurut National Police Chiefs' Council (NPCC).

Memang naik?

Hak atas foto Ewa Banaszak
Image caption Keluarga Polandia di Plymouth menerima apa yang polisi pandang sebagai surat "penuh kebencian".

Pertanyaannya apakah ini kejadian sekejap atau batas kejahatan kebencian pada umumnya memang telah naik. Para korban berharap ini hanyalah gelombang sementara yang akan segera berkurang.

"Saya pikir akan menjadi tenang," kata Milaseviciute. Tetapi dia tetap memutuskan untuk tetap di dalam rumah saat malam hari untuk sementara waktu.

Adalah normal bagi laporan tingkah laku rasis melonjak setelah peristiwa berita besar. "Kejahatan kebencian tidak terjadi secara terpisah," kata Dr Stevie-Jade Hardy, pengajar kajian kebencian di University of Leicester.

Terdapat sejumlah alasan di belakangnya, tambahnya. Pertama, Brexit "belumlah selesai bagi kebanyakan orang". Hal ini masih mendominasi berita utama dan akan terus seperti ini di masa depan.

Selain referendum, terjadi juga peristiwa yang sejenis pada periode yang sama. Serangan teror di Nice, Muenchen, dan penembakan Orlando. Jadi hanya menyalahkan Brexit adalah terlalu menyederhanakan masalah.

Terjadi juga serangan anti rasisme di internet, yang kemungkinan menunjang orang untuk melaporkan peristiwa yang sebelumnya tidak akan dicatat.

Dengan bantuan Institute of Race Relations, situs internet Post-Ref Racism, Worrying Signs dan iStreetWatch menghimpun kajian berdasarkan laporan 636 orang terkait rasisme dan kejahatan kebencian terhadap warga asing.

Tekad

Tidaklah mungkin untuk mengetahui tingkat lonjakan saat ini karena peningkatan laporan atau disebabkan peningkatan kejadian sebenarnya. Yang kita ketahui adalah sebagian besar kejahatan kebencian biasanya tidak dilaporkan.

Polisi mencatat 52.528 kejahatan kebencian pada 2014-15, tetapi Crime Survey for England and Wales (berdasarkan pertanyaan yang dilontarkan kepada orang yang mengalaminya) mengisyaratkan diperkirakan terjadi 222.000 kejahatan kebencian per tahun dari 2012-13 ke 2014-15.

Ini mengisyaratkan hanya sekitar satu dari empat kejahatan kebencian yang benar-benar dilaporkan.

Hak atas foto Other
Image caption Danilo Venticinque, 30 tahun, kelahiran Brasil mengatakan minoritas yang rasis seharusnya jangan terlalu percaya diri.

Jadi jika jumlah laporan turun dalam beberapa minggu ke depan, ini bukan berarti jumlah kejadian juga menurun, kata Hardy.

Tetapi pemerintah menyatakan tekad untuk mengatasinya. Menteri dalam negeri mengatakan akan dilakukan pengkajian terkait cara polisi menangani kejahatan kebencian.

Para korban menunggu pengaruh kebijakan ini. "Keadaan sepertinya akan lebih tenang," kata Jeraj. "Tetapi saya tahu orang-orang yang takut meninggalkan rumah mereka," tambahnya.

Danilo Venticinque, 30 tahun, kelahiran Brasil mengatakan sebagian besar warga Inggris menolak kebencian.

Ia mengatakan tidak banyak anggota masyarakat yang bertindak seperti wanita yang melecehkannya.

Mereka ini 'minoritas, tetapi minoritas yang seharusnya tidak merasa terlalu percaya diri'.

Berita terkait